Thursday, March 8, 2012

MENCARIMU (Catatan lepas dari bukit Padadita)


MENCARIMU
(Catatan lepas dari bukit Padadita)

Sang waktu menyeret pergi senja lalu seperti biasa dengan terseok, dihantarnya dewi malam ke penghujung hari. Padahal bagiku senja masih terlalu dini untuk dirampas dariku. Serangkaian ritual eksplorasi menikmati senja, baru saja kumulai. Apalagi kalau bukan dengan rokok dan segelas kopi kental pahit. Sayup suara alat musik tradisional khas alam Sabana ini, mulai mencoba mengikis diamnya malam. Seolah tetabuhan itu sedang berusaha menjadi pelukis yang baik atas kehidupan mistis masyarakatnya. Nun di punggung bukit, kerbau serta hewan yang diternakkan di padang, mulai merengek minta dikandangkan. Sudah sejak tadi burung-burung bertengkar berebutan mencari tempat berteduh. Kukira sebentar lagi ritus kehidupan segera berhenti di atas atmosfir negeri Sandlewood ini.
            Di bawah neon 40 watt, aku masih terpekur dengan refleksi bulanan yang harus dikumpulkan lusa nanti. Sudah dua bungkus rokok kuhabiskan sekedar untuk mengusir kantuk (alih-alih untuk mencari ide). Dan seperti setiap satu batang rokok yang habis kuisap, seperti itu pulalah kumpulan ide yang bermain di kepalaku. Habis-hilang, entah kemana. Datangnya ide menjadi secepat dia pergi saat aku berusaha untuk mengembangkannya. Aku bingung, bahasa apalagi yang harus kutuangkan di atas kertas bergaris ini. Pelbagai kalimat klise dengan sedikit bunga kata sudah kubongkar dari semua perbendaharaan kataku. Beberapa bumbu kisah kutulis di dalamnya, untuk sekedar membungkus kemunafikanku yang gagal menemukan esensi sejati dari menulis renungan untuk kebutuhan banyak orang. Apalagi renungan ini akan dibawakan dalam salah satu ritus religi agamaku. Takut pula aku membayangkan jika aku hanya melakukan kesalahan yang sama dari para tetua (baca:pemuka) agamaku, yang kadang menulis renungan asal-asalan dan yang penting jadi. Tanpa ada muatan pengolahan rasa dan pengalaman serta niat yang luhur untuk menghantar para pemeluk agama kami pada perenungan diri demi menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tapi, apa yang kutakutkan itu, sebenarnya sedang pula aku lakukan. Aku menulis renungan dengan buru-buru hanya demi mengejar deadline: penampilan khotbah renungan pertama kaliku sejak aku diterima pada (biara) konggregasi yang berpredikat sebagai “pengkhotbah” ini. Soal “menyeret orang lain dan menenggelamkannya pada kolam keyakinanku” bukan hal yang sulit bagiku. Namun, kali ini aku harus mengakui kalau aku gagal dalam membuat berbagai narasi dan argumentasi yang bisa mendukung isi renunganku ini.
            Aku sedang kalah oleh jiwaku sendiri. Jiwaku bahkan lebih parah lagi…Ia sedang kalah dengan gelisahku. Kegelisahan yang aneh, yang sudah bertahun-tahun aku lupakan caranya untuk mengatasinya. Lupa, gara-gara urusan afeksi dan perasaan ‘istimewa’ yang disebut CINTA itu, pada jalan yang sedang aku tempuh ini, ia sungguh menjadi tabu-haram. Siapapun yang hendak menjadi Paderi alias Pastur, haruslah mampu menghilangkan keinginan pada ketertarikan dengan lawan jenis dan mengolahnya menjadi pelayanan yang sakral, hanya pada Tuhan dan umatNya.
Aku sedang gagal menyeimbangkan “ratio” dan “emotio”-ku. Lagi-lagi, aku merobek refleksi kesekian belas yang setengah jadi itu dan mencampakkannya begitu saja ke lantai. Tentu saja sambil membuka koleksi sumpah serapahku dari bahasa nenek moyangku nun jauh di kampong sana, sampai makian terkini yang katanya lebih ‘funky dan gaul’ itu.
            “Sial..!!”, umpatku dalam hati. Untuk kali yang tak terbilang lagi, bayangan gadis itu muncul. Sepertinya alam bawah sadarku – atau mungkin hatiku – tak pernah bosan-bosannya menyiksaku. Aktivitas harianku pun mulai terganggu. Tak jarang aku ditegur paderi pembimbingku, bahwa aku sering melamun dan kadang tersenyum sendiri. Bahkan, Rinto, temanku pernah sekali waktu berkata :
            “Kawan, jangan-jangan kau kena le’u-le’u (baca: guna-guna). Aku punya kenalan seorang pendoa kharismatik. Mungkin beliau bisa membantumu.”
            Dalam hati aku hanya bisa geli mendengar kata-kata sahabat baikku itu.
            “Yah, aku butuh pendoa untuk bisa membuat dia hadir disini di depan mataku…”,aku membatin.
Sudah sakit dunia ini. Semua hal yang tidak mampu dijelaskan dengan akal (yang sehat tentunya), malah ‘diusahakan’ untuk dijawab menggunakan jawaban-jawaban dari dunia meta-fisis. Mitos dan hal-hal berbau mistik lainnya menjadi laku keras dan diyakini sebagai kunci jawaban utama dari semua kejadian yang (menurut orang di kampungku) tak sampai ke ranah penalaran mereka. Maka, jadilah aku juga menjadi salah satu korbannya. Rinto, seorang pemuda cerdas yang seperti aku juga sedang mengecap dunia filsafat dan berbagai alam pemikiran dalam silabus-silabus ber-font 10 itu pada pengapnya perpustakaan biara, namun lihatlah caranya berpikir dan menanggapi segala sesuatu di luar konteks rasionalitas: dengan nista dan keji dia menganggap aku terkena mantra guna-guna…dari seorang gadis yang sedang kupuja pula!!!
“Mana mungkin gadis sepolos dan sebaik dia tega berbuat seperti itu? Pantaskah aku menuduhnya sekeji itu? “, tanya batinku seolah sedang mengadiliku.
Memang ini bukan kali pertama aku dipeluk perasaab aneh seperti ini. Namun, tak selamanya gadis pertama adalah cinta pertama, bukan? Aku pernah melewatkan saat-saat pengolahan yang mudah bersama Lidya, Waty, Ina dan Ike. Bagiku, keempatnya adalah bunga-bunga segar dalam perjalanan ‘panggilan’ yang (kukira paling) suci ini: mengabdi padaNya dan umatNya. Progress yang harus kulewati terasa lebih jauh lebih mudah dengan keempat gadis tadi  ketimbang dengan ‘wanita besi’ ini. Hehehehe…yah, kusebut ‘wanita besi’ karena baru dia yang membuat progress dan  pengolahan rasaku kali ini kacau balau. Rusak total. Pemahaman-pemahaman baru yang kutemui saat mulai mengolah ‘dunia rasaku’ ketika bersua dengannya, sukses menjadikan ia wanita  limited edition dalam hidupku. Dengan keempat gadis terdahulu, selalu saja ada turning point yang membuatku tak sanggup mengkhianati keputusan dan pilihanku saat ini. Semoga turning point itulah yang akan membuka pikiranku (lagi) dan menajamkan mata hatiku (kelak), agar mampu melihat kembali dan menemukan jalanku yang sebenarnya; yang seharusnya kutempuh.
Jadi, jelaslah sudah bagiku, cinta hanyalah sebuah permainan untuk mendapatkan sebuah titik balik alias turning point tadi sebagai pembaharu hidup dan me-refresh seluruh rencanaku menjalani hidup ini. Doktrin ini, terpelihara dengan baik di bawah bayangan trauma cinta masa akil baliq. Dan, sekarang aku sedang menanti kedatangan dewa penyelamatku itu: Turning Point tadi, yang tetap kuyakini akan melepaskanku dari penjara bayangan gadis itu. Pikiranku memperkirakan sebentar lagi titik balik itu akan segera dating, tapi hati kecilku berbisik: “Kau salah besar, Bung!!”

*******

            Santy, itu namanya. Bukan baru saja kukenal gadis ini. Aku mengetahuinya sejak kami kecil. Meskipun, aku tak begitu yakin apakah dia masih mengingatku saat kami di usia TK dan SD itu. Kebetulan, ibunya adalah teman baik ibuku kala bersekolah di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dulu. Dan, kebetulan lagi, keluarga kami sering bertemu di acara-acara maupun pesta keluarga Maumere di kotaku tercinta: Kupang. Maklum, ibunya berasal dari tempat yang sama dengan ayah dan ibuku dilahirkan: Maumere, sebuah kota pelabuhan di daratan Flores. Bertahun-tahun, tak pernah melihatnya lagi. Hidup berjalan. Waktu tersaruk mengejar hidup dari belakang. Hampir tak ada yang tersisa lagi , mengenai ingatan tentang sosok gadis ini. Dan, memang tak ada pikiran sama sekali tentang gadis ini. Satu-satunya yang tersisa adalah ingatan mengenai perangainya di masa kecil yang pecicilan kesana-kemari, ribut, bahkan sering kurang ajar dan pandai berkelahi dengan anak pria seumurannya (bahkan yang lebih tua pun dihajarnya). Itu saja. Tak ada yang istimewa. Tak ada yang begitu special.
Sampai suatu ketika, tepatnya dua tahun yang lalu, saat aku berlibur dari sekolah asramaku dan pulang ke Kupang. Dalam suatu acara keluarga waktu itu, hadir pula keluarganya. Bahkan oknum ini pun ada. Tapi, hey…ada yang berubah pada dirinya. Mestinya ada sesuatu yang istimewa saat aku melihatnya kali ini. Entah apa itu aku tak tahu dan tak mampu menjelaskannya. Inner beauty-nya, sukses memberikanku pandangan baru yang amat berlawanan dengan pandangan umum tentang gadis-gadis zaman sekarang, yang katanya lebih ‘gaul’, walau entahkah saat itu aku tengah dibutakan (sebuah) pandangan pertama. Bagiku, kali ini merupakan penglihatan (kalau tak dapat dibilang pertemuan, sebab kami berdiri jauh-jauh dan tanpa ada komunikasi verbal apapun) yang istimewa buatku.
“Tapi mana mungkin, dia kan hanya seorang gadis SMP…seorang anak bau kencur…mana mungkin aku suka apalagi jatuh cinta padanya”, lagi-lagi batinku berusaha menjadi sang pengadil, yang berusaha menjaga keseimbangan antara area ‘rasa’ dan ‘nalar’-ku.
Jujur saja, bagiku ia berubah. Sangat jauh berubah. Ia hadir dalam kesahajaan yang anggun dan ketegasan yang pasti, itu kesan pertamaku yang kutangkap dari wajahnya yang agak polos dan lugu itu. Dia sunggguh menjadi cermin dari sebentuk jiwa yang lembut namun kokoh. Sungguh tipikal pencitraan figur yang selama ini kukira hanya ada di komik-komik Jepang itu atau di sekumpulan novel asing yang sering kutemukan tak terjamah di sudut gelap perpustakaan seminariku.
Dan, mudah ditebak bukan. Semenjak itu aku memang mulai sering memikirkannya. Celakanya, baru-baru ini sebelum datang ke biara ini, aku sempat melihat lagi foto-foto masa kecilku di rumah. Dan…hey!!! Ada foto dia disana juga. Hhmm…entah dimana gadis itu sekarang. Gelisahku semakin menyiksa. Dan malam makin pekat di batas hari. Pekat dan penuh pula rasa dan nalarku.

*********
“Aku mencintaimu…kurasa…”, kataku hampir tanpa ketegasan. Mungkin, karena takut terhadap kenyataan dan komitmen atas jalanku sekarang.
“Mungkinkah itu? Sementara kau dan aku memiliki dunia yang amat jauh berbeda. Perjalananmu yang sekarang saja membangun tembok yang tinggi dan besar. Kupikir saat ini kita berdiri di jalan dan di dunia yang berbeda…”, datar jawabnya.
“Mengapa tidak? Bukankah bunga dengan beragam jenis bila disatukan dalam sebuah vas akan tampak lebih indah?”, lanjutku dengan sedikit memaniskan kata menggunakan analogi usang ini.
Mungkin bisa meyakinkannya, yah…paling tidak menggoyahkan pendapat ‘wanita besi’ ini. Aku tahu ia bermaksud mengingatkanku akan pilihan dan perjalanan hidupku saat ini yang ingin menjadi pastur itu.
“Kamu tahu bunga Edelweiss?? Ia bisa tumbuh di atas batu karang, karena alam memberinya tempat dan kesempatan. Dan lihatlah, ia menjadi bunga yang sungguh indah dan langka. Beri aku kesempatan dan akan kubuktikan bahwa cinta yang sejati dapat tumbuh di atas perbedaan-perbedaan pilihan, sekeras apapun pilihan itu…”, lagi-lagi jurus analogi yang kulancarkan.
“Kena kau!!”, kataku dalam hati. Aku sudah bisa mencium bau kemenangan, ketika akhirnya dia menyambung perkataanku dengan kelembutannya yang tak dibuat-buat:
“Kesempatan dan kemauan haruslah searah berjalan. Di saat yang satu berjalan yang lain menopangnya. Di saat kesempatan untuk mencintai ada, kemauan untuk mencintai pun harus membayanginya dari belakang…Aku punya kesempatan buatmu, tapi aku ragu pada kemauanmu”.
Sejenak darahku terasa berhenti beredar. Harus kuakui aku terkejut. Dan, aku tahu pasti seperti apa wajah konyolku saat itu.
“Percayakan saja pada waktu nona!! Dan, kau akan tahu betapa aku mencintaimu!”, tangkisku sia-sia. Aku merasa seperti serdadu tolol yang kehabisan peluru tapi masih berusaha menembak musuh.
Tiba-tiba tawanya pun pecah. Hhmm…Manis sekali. Dari balik senyumnya itu, ia berkata kepadaku, “Kurasa…aku juga mencintaimu!”. Senyum itulah yang membuatku yakin, bahwa aku ‘lulus’ ujian itu. Hujan di luar sudah lama reda. Matahari pagi yang seharusnya sudah muncul dari tadi, malu-malu keluar dari balik awan hitam. Lega rasanya. Namun, lamunanku ini dihentikan paksa oleh suara lonceng biara yang memekakkan telinga. Sekarang saatnya ibadat pagi. Mungkin lain kali saja baru kulanjutkan menikmati ‘fatamorgana’ku tadi. Ini seperti menjadi obat atas kegelisahanku mencari oase pemuasan akan sosok Santi. Time to go back to my real life!!! Masih ada ibadat pagi, misa pagi, sarapan pagi bersama, kuliah komunitas, kerja dan serangkaian aktivitas monoton-membosankan yang harus kulalui hari ini. Mungkin di antara aktivitas menjemukan hari ini, aku akan melanjutkan menikmati ‘fatamorgana’ku lagi: Santy!!

************

Laut di kaki bukit ini masih seperti biasanya, berbaring angkuh sampai di batas horizon. Seakan dengan pongahnya ia menunjukkan kekuatannya menyimpan Santy-ku di ujungnya yang lain. Waktu terus menyeret kehidupan sambil melempar siang dan malam ke dalam kehidupan dunia. Segala sesuatu di sekitarku bergerak seperti biasanya, termasuk juga kecambah di lembah, yang kini disulap alam menjadi barisan padat-sejuk lamtoro gung. Dan aku? Aku akhirnya kembali menemukan diriku sedang tersaruk melangkah mengejar sebuah “titik balik” yang tak pernah pasti datangnya. Aku juga menemukan satu kenyataan (pahit?) bahwa lembaran indah yang sering kuimpikan di senggang waktuku untuk bersama Santy perlahan mulai kosong. Tak tertulis apapun jadinya. Jauh punguk dari bulan, rupanya. Entah dimana gadis itu sekarang. Tak pernah lagi aku tahu kabarnya. Rupanya pameo klasik “jauh di mata, dekat di hati” gagal membuktikan kesakralannya sebagai anak dari pengalaman. Bahkan, credo filsuf Yunani, Plato, bahwa cinta adalah keabadian (tak bertepi), takkan meruntuhkan tembok keyakinanku saat ini bahwa kami takkan pernah bertemu lagi.
Aku tahu, bisa jadi aku adalah korban sebuah permainan. Permainan antara hati dan otak, antara logika dan rasa, antara apa yang aku rasa dan apa yang aku pikirkan. Toh, kalau sampai sejauh ini aku masih mencintai Santy, itu hanya karena sebuah keyakinan yang terpatri di dada bahwa Santy adalah gadis sempurna yang selalu member kesegaran pada jalan pilihanku sekarang: menjadi biarawan berkaul tak kawin, sederhana dan taat pada pimpinan. Membayangkan Santy sebentar saja, seolah membuat mentari pagi dua kali lebih hangat dari biasanya.
Lonceng biara lagi-lagi bergema. Angin sore tak tergesa berlari di antara pohon pinus dan lamtoro di lembah sana. Senjaku sedang indah dan terlalu sia-sia untuk tak dinikmati. Semburat lembayung tipis berpadu nyala mentari sore yang temaram lembut, membuatku terpekur dalam mata terpejam. Mungkin ini namanya ‘sindrom senja’, karena  ajaibnya di senja yang indah ini sering raga tak ingin bergerak, inginnya waktu berhenti sedikit lebih lama agar kureguk kepuasan menikmati senja ini. Dan, dengan kepastian yang mantap, satu demi satu kata kurangkai untuk
“Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku.
            Mengenal hidup.
Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta,
            Tak bermuara.
Engkaulah matahari Firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara(ku)
            Engkau hadir dalam ketidak-mengertian. Gerakmu tiada pasti.
            Namun aku terus disini (dalam jalan Tuhanku)
            Mencintaimu.
            Entah kenapa….”
Paragraf pembuka itu—yang sengaja kupinjam dari novel Supernova, karya Dewi Lestari—kutulis penuh perasaan, sambil terus kupandangi wajah Bundaku dan jubah putihku pada gantungan di sudut kamar.
Senja makin merah di kaki langit. Dan, aku pun masih mencintai panggilan hidupku menjadi pastur…. Maaf, mungkin juga aku masih mencintai Santy. Selamat sore!!







Buatmu:  
yang kucari bayangmu pada seribu malam,
yang kucari senyummu dengan membiarkan jiwa terbunuh rasa
yang kucari sejatimu di ujung senja bukit ini
yang kucari dirimu di tajam pena menari
buatmu, Santy-ku
Waingapu, Valentine Day 2002

1 comment: