Wednesday, November 28, 2012

HUJAN!!

Hujan...
Menghapus kepingan
yang terserak di jalan kita...
Mencuci bersih bayang kita waktu itu
saat perjalanan terlampau indah dan naif...

Hujan...
Melempar geledek pertanyaan di benak
"apa pantas perasaan dipersalahkan?"
Menampar diamku yang terlampau bodoh...
Apa lantas aku terbangun dari mimpi
dan menemukanmu tersenyum seperti dulu?

Hujan...
Rinai kecilnya, melunturkan amnesia-ku,
yang lama kujaga...
Sebenarnya aku suka amnesia ini...
Membuat aku nyaman pada lelapnya jiwa tertidur..
cinta sangat aku pada amnesia ini,
dengannya lorong malam tak lagi panjang dan menyedihkan
untuk dilewati...

Hujan...
Jikapun kau pergi,tolong jangan bawa bayang2 dia...
Titipkan saja pada pelangi,yg setia mengikutimu dari belakang..
Atau taruh saja bayangnya pada segar aroma rumput,
usai kau pergi...
Masih mampu kok aku menemukannya...
Asal jangan kau bawa saja...

Hujan...
Jika kau kembali nanti..
Baru kupulangkan bayangnya..
Tunggu sampai kuhirup rindu ini hingga tuntas
Dan kuserahkan dia,bukan dengan kerelaan
tapi dengan ketaatan yang aneh atas cinta...

Hujan...
Jadilah selalu sahabatku,
dan ajarkan aku untuk setia menari dibawahmu...
Tegar didalam dinginmu
Konsisten didalam guyurmu...







Akhir November 2012, mendung di langit Jakarta...

posted from Bloggeroid

Tanya hidup tanya?

Apa itu rasa? Hanya habis untuk diindrai nafsu badaniah? Atau, masih langgengkah kau tersemat di balik dada tulus?

Apa itu sepi? Jika lantas di tengah keramaian pun kau menampakkan wajahmu?

Apa itu puas? Kalau tubuh tak mampu menampung semua jenis turunanmu? Sejak kapan kau hadir di dunia? Kau hadir hanya sebagai kata dan termin..tanpa ada satupun titisan nyatamu...

Apa itu hidup? Jika kadang kematian pun berselimutkanmu? Sering, dalam hidup pun kami mati... Lantas apakah engkau,wahai hidup? Permen dari Sang Pencipta,utk menenangkan anakNya yang bengal?

Apa itu mimpi? Jika kau hanya ingin meninabobokan kami, dan membiarkan kami utk bangun dlm realita pahit bahwa kau tak pernah nyata erat merangkul kami?
Jika kau hadir hanya utk melukai kami dengan jalan memutarmu?

Apa itu anugerah?? Jika lantas untuk memjemputmu bertamu dalam rumah kami pun kau harus mengambil banyak keriangan kami?

Apa itu kutukan? Jika ternyata mengucapkannya pun pada yang lain, berarti membiarkanmu datang lagi pada kami?

Apa itu bencana? Bila dengan datangmu, kami lantas harus berkata Sang Khalik tidak adil? Lantas siapakah DIA, jika kau berkata bahwa kau utusanNya?

Apa itu sedih? Jika akhirnya setiap hujan diberi pelangi, setiap masalah satu paket datangnya dengan solusi, setiap doa seirama dengan berkat? Maka, golongan apakah kamu sebenarnya,wahai sang sedih?

Apa itu harapan? Jika kenyataan selalu jauh dari realitas hidup? Lantas untuk apa kau hadir, harapan? Algojokah kau?

Minggu pertama di 30, November akhir 2012

Tuesday, March 27, 2012

INI KITA !!! (Buat semua kawan yg hari ini turun ke jalan:"Tolak harga BBM!"

INI KITA !!!
(Buat semua kawan yg hari ini turun ke jalan:"Tolak harga BBM!")


Ini kita, masih sekumpulan di seberang jalan..
Bercerita tentang kepalan tangan
Memilih tak mau dibelenggu
Berpekik dengan bara tanpa ragu

Ini kita, bukan sekumpul perdu
hanya sekebun candu
memabukan agar mereka tau malu
bahwa mereka cuma benalu

Ini kita, sekumpul wayang di tengah zaman
bergandeng rapat pada tiap kepalan
"angkat panji tetap berkibar...
menjaganya tanpa gentar !!!"

Ini kita, sekumpul batu bernama gunung
berbaris riang dari Tugu Proklamasi
hingga ke beton-beton Istana Agung
hanya karena tak ingin makan nasi basi

Ini kita, sekumpul air pada samudera
tegar menghajar-mendera

pada kalian yang terbeli mimpi
jika harga akhirnya melambung tinggi

Ini kita, sekumpul angin di perut badai
yang tak terima jika kalian berandai :
"...naikkan BBM tinggi-tinggi..."
kami turun ke jalan mengirim puting beliung
supaya tau rasa kalian kalau kami kebiri dua kali!!!



 --Ryfal--


Senja Maret memerah di langit Bekasi
"barisan panjang di tugu Proklamasi sudah pulang..."

Tuesday, March 20, 2012

Jangan takut, sayang!

Berdua, kita bukan hanya bereksperimen
tentang cinta dan gatranya
Berdua, kita sedang merayakan
penemuan kembali akan rasa, harapan dan mimpi

Dan, karena itu
cacian menjadi menu kita
makian tiba-tiba menjadi barter buat kita
hinaan mereka campur di dalam cawan kita

Mari, jangan gentar sayang
jika mereka menggonggong pun melolong
di rembang fajar nan tenang
dan di gelap hari siang...

Kita bukan sepasang dengan hati kerdil
bukan pula sepasang hati tak berbelas
kita cuma memilih
dan hidup atas pilihan ini...

Mari, jangan surut nyalimu sayang
karena mercu suarlah kita
setia menunggui pantai ganas
tetap diam dalam amuk badai
dan bijaklah di ganas ombak

Mari, jangan takut sayang
kita, para petualang belantara
lelah pada nyamannya hidup
muak pada kehendak yang terbeli
riang kita bercanda di rimba idealisme
gembira kita bertarung pada tantangan

Mari, jangan cemas sayang
sampai waktu membaptis kita
dengan pengalaman dan kebijaksanaannya
takkan terbeli kita oleh kehendak, pandangan,
apalagi harta dan uang...
mungkin, kita takkan berpunya
tapi kita berbahagia
karena tak terbeli dan menjadi merdeka...




Bekasi, Maret 2012
Malam turun membungkus kita, "S"....

KAU

Kau, ingin kureguk tiap tetes sarimu
dan kuhisap tiap bulir bernasmu
Untung saja rumahmu hanya di dada
dan mainmu hanya di idea
Maka, kunikmati saja kau
pada mata yang terpejam
dan hati yang bersyukur
sambi membilang namamu dalam keabadian: CINTA



Bekasi, medio Maret 2012
senja baru lewat, "S"...kau dimana?

RAYAP DALAM KAYU


Dan meski panas berlari di langit garang...
tangan terkepal membungkus pekik lantang:
"KITA SEKUMPULAN ORANG SEBERANG JALAN,
PANTANG MERAYU AGAR DIKANGKANGI KEKUASAAN
ENGGAN KAYA KARENA TAK TERBELI..."

KAMI MEMILIH BERCINTA DENGAN IDEALISME
KARENA JIJIK MELIHAT KALIAN
MENJILATI TUBUH IBU PERTIWI
DENGAN GELOJOH PERUT GENDUT KALIAN
LANTAS MEMPERKOSANYA DI BELUKAR SENAYAN"

dan biar di ujung hari nanti
saat matahari nyaris pergi dari negeri ini
kami berjanji akan kembali
membakar kalian dengan bara kami
meski kami cuma "RAYAP DALAM KAYU"...



Bekasi, Maret 2012
"kita tak terbeli, S-ku!!!"

Saturday, March 17, 2012

PATAH-TUMBUH

Patah...
Membuat sulit mengekstrak rasa
apalagi logika..
Lantas sibuk mencari katarsis
membenam diri pada gilanya hari berlari...
Berharap dengan simpuh lutut
di depan lilin bernyala meminta: "Tuhan, jauhkan cawan ini dari aku..."
Lalu memaksa pena menari
mereduksi gusar
agar tariannya menentramkan guncang gemuruh dada...

Dulu, berharap jadi gunung
Tegak-kokoh menahan bayu menggila
Abadi saat zaman berganti
Setia menunggui bumi
Bertarung dalam diam
Dan menang pun dalam hening
Karena tahu tak akan patah

Pernah, bermimpi jadi karang tepian pantai
Tenang-diam berbaring
Dalam ketenangan aneh
Menunggu hempas ombak, yang lembut pun ganas
Teguh meyakini, tak ada ombak yang akan menggeser
Tak takut, karena tahu tak akan patah

Aneh Buku Hidup ini...
Patah-tumbuh aku diberi
dalam patah aku mengerti tumbuh
dalam tumbuh aku paham tentang patah

Smoga benar...
bahwa jiwa kanak dibentuk saat patah
dan jadi bijak pun dewasa saat tumbuh
bahwa  pucuk teh muda dipatahkan
agar bertumbuh pula pucuk (pemahaman) baru lain...

Jadi, apalah arti patah jika akan tumbuh?
Apalah arti tumbuh jika bakal patah?
Saat patah kubersyukur sedang tumbuh
Saat tumbuh kuberdoa agar tak lupa rasa patah...




Buatmu "S", patah-tumbuhku
Bekasi, Medio Maret 2012


Siulan sahabatku di gelap savana...terima kasih Abner!

Koki Biru

dengan tulus
mari suguhkan mereka masakan yang pedis
......
yang kita racik di dapur belakang
tempat diskusi-diskusi kita yang merdeka
......
kita meracik dangan senyuman
dan mereka mencicipi berwajah kecut..
.....
sebab kita punya bumbu dan resep sendiri
tulislah di dinding dapur kita
MAAF... KITA TIDAK MEMASAK SESUAI PERMINTAAN..!!!

Abner Raya Midara
14 Maret 2012

Tuesday, March 13, 2012

MENULIS DAN DIBAYAR DOLLAR..!!!!

Bagi anda yang suka menulis wacana, artikel, cerita, puisi, atau resep masakan, maka tak ada salahnya untuk mencoba Triond.
Triond adalah layanan online yang bisa digunakan untuk mendapatkan pembaca tulisan anda sebanyak-banyaknya.
Anda bisa mempublikasikan apapun di layanan ini. Seperti artikel, video, foto dan audio.
Lalu Triond akan mempublikasikan konten-konten anda ke semua jaringan publikasi yang mereka miliki.
anda akan mendapatkan pendapatan sebesar 50% dari iklan yang muncul pada konten anda dan dibayarkan melalui Paypal atau Western Union.
minimum pembayaran lewat Paypal hanya 0.5$ saja dan dibayar otomatis tanggal 10 tiap bulan.

Sebenarnya Triond ini dapat menjadi alternatif para blogger yang ingin mendapatkan iklan affiliasi seperti adsense.
Cara penggunaannya pun mudah :
  1. Buatlah konten yang asli dan unik dalam bahasa inggris. jangan asal Copy paste, karena bakalan ditolak oleh Triond. kalau mengutip dari buku atau artikel lain, usahakan kata-katanya tidak persis 100%. ubah dengan gaya bahasa kita sendiri. dari pengalaman pribadi saya, tiap artikel yang saya tulis berisi kurang dari 300 kata saja, jadi gak perlu panjang lebar. saya ini bukanlah orang yang pandai bahasa inggris, tapi nyatanya artikel saya sebagian besar berhasil terpublikasi di Triond dan tetap mendapat pembaca. jadi anda tak perlu khawatir kalau grammar inggris anda jelek, bahkan saya sendiri punya 3 software penterjemah di laptop saya, tentu untuk membantu kinerja saya di Triond.
  2. Triond akan mempublikasikan konten anda di jaringannya sesuai topik konten anda.
  3. semakin banyak yang membaca, maka kemungkinan akan banyak juga anda mendapat penghasilan dari iklan yang tampil menyertai konten anda. walaupun artikel anda biasa-biasa saja, tapi kalau banyak pengunjung (trafik) maka akan menghasilkan banyak uang. dari pengalaman pribadi saya, biasanya link artikel saya promosikan di Facebook, jurus ini sangat ampuh untuk menghasilkan trafik. submit tiap link artikel kita di Search engine (search engine submitter), ini adalah cara lain yang juga cukup ampuh mendatangkan trafik. dari pengalaman pribadi saya, tiap 10 kunjungan dihargai rata-rata 0.02$.contoh pendapatan: misal anda punya 100 artikel di Triond, tiap hari dari setiap artikel mendapat 2 kunjungan. maka pendapatan tiap bulan (dengan asumsi trafik konstan): 100×2×0.002×30=12$ angka yang cukup lumayan bukan? bagaimana kalau tiap artikel rata-rata dikunjungi 10 orang per hari? atau bagaimana kalau anda punya 1000 artikel di Triond? nah, silakan di hitung sendiri hasilnya… syukur-syukur kalau anda faham teknik SEO, sehingga bisa mengambil judul yang populer di search engine. ini tentu bisa menghasilkan trafik gratis dan tentu saja dampaknya akan mengalirkan dollar gratis ke kantong kita (residual income) atau pasif income.
  4. buatlah konten yang membuat orang penasaran. konten yang menarik dan membuat orang penasaran bisa mendatangkan trafik yang cukup lumayan juga.
  5. Triond mempunyai halaman “community” yang menurut saya mirip pola situs social networking. jika kita berhasil mempublikasikan suatu artikel maka feed artikel itu akan muncul di dashboard friend Triond kita. jadi ada kemungkinan friend kita akan mengunjungi artikel tersebut. semakin banyak kita add friend maka ada kemungkinan artikel kita semakin banyak dikunjungi (mendatangkan trafik). kalau sudah terdaftar, silakan add saya sebagai friend. username saya di Triond adalah logic57.
  6. Triond akan mempromosikan artikel anda secara otomatis lewat jaringan traffic.outbrain.com, jadi anda akan mendapat tambahan traffic (kunjungan) secara gratis, dan itu tentunya sama dengan mendatangkan dollar gratis. he he he… betul gak? jadi buatlah artikel sebanyak mungkin agar peluang di promosikan di traffic.outbrain.com juga semakin besar pula…

Ini tulisan seseorang yang kupanggil "ADIK"...Bravo brada!!!

“ Cinta dan benci : berbeda, tapi tipis jaraknya"

oleh Ly Dark pada 12 April 2011 pukul 1:05 ·
 
 
 
Dalam keheningan di suatu tempat…….
Pelabuhan menjadi saksi bisu dengan sinar mentari yang sedikit lagi hilang dari peraduannya……
Akupun mulai mengamati…………..
Aku berkeliling kota. Aku menyusuri jalanan dengan melangkahkan kakiku perlahan. Satu dua langkah, sungguh membuatku terlepas dari rutinitas sehari-hari
Aku membaca habis semua gambaran alam, menelusuri jejak-jejak detik yang berlalu. Aku menjadi penikmat waktu yang tiada bosan mengamati, keingintahuanku akan hidup. Seperti keingintahuanku sejak dulu yang tak terjawab, ketika semua manusia harus mati, bumi akan dihuni oleh siapa? Dan siapakah sang pencipta itu? Bila Ia dapat menciptakan segala macam benda, apakah Tuhan diciptakan oleh diriNya sendiri? Untuk itu tentunya Dia mempunyai “diri” sebelum menciptakan diriNya sendiri. Aku bukan seorang filosof atau anak kecil yang peka. Aku hanya merasa seorang mahluk yang biasa. Aku mahluk yang misterius, ketika aku menemukan diriku sendiri di suatu hari dengan suatu kesadaran yang sama sekali baru.
Tidak semua orang pernah bertanya pada dirinya tentang dirinya sendiri, tidak semua orang ingin mengetahui tentang kehidupan, tentang dunia. Mungkin karena telah terbiasa, atau terlalu disibukkan oleh permasalahan-permasalahan sehari-hari sehingga keheranan pada dunia tak pernah terpikirkan. Kita kehilangan kemampuan untuk bertanya-tanya tentang dunia. Mungkin hanya bayi-bayi yang mempunyai rasa ingin tahu. Baiknya kita kembali jadi seorang bayi, bukan menjadi mahluk dewasa yang menganggap dunia ini begini karena sudah seharusnya begini.
Di tempat ini aku bukan sedang belajar filsafat atau mereka-reka tanya. Sungguh perjalanan ini sangat membosankan. Tapi aku tak perlu bertanya dari mana asalnya bosan, karena di detik ini aku hanya mengamati tidak bertanya-tanya lagi……..

Aku sekali lagi masih mengamati. Mengamati lalu-lalang manusia yang bergegas, ada wajah lelah, ada pancaran kegembiraan, kerinduan. Ada yang hanya diam, ada yang resah. Di depanku tampak pasangan muda yang lagi berdua…

Pasangan yang di depanku tertawa lepas. Saling bercanda tiada henti, mengusir kantukku. Mereka saling bercerita tentang kisah lama mereka dulu. Sepertinya mereka telah saling kenal sejak lama. Sungguh cinta mereka begitu panjang dan melelahkan. Seperti lelahnya pengamatanku saat ini. Dan aku masih mengamati file-file kehidupan yang terbuka di tiap detiknya…..

Hembusan asap rokok serta aroma kopi silih berganti mempermainkan pikiran aku……..

Tatapanku tertuju pada selembar kertas putih.kertas kosong tanpa ada noda tinta setitik pun di atasnya. Aku merasa kepenatan ini sedikit terkurangi. Kertas kosong. Ada ruang hampa di dalamnya yang dapat aku masuki. Aku bisa bermain-main di atasnya.
Tapi apa jemari ini akan bergerak?
“Apa masih bisa? Apa masih harus kulakukan lagi?”
Kertas kosong akhirnya selalu menjadi tempat bermain bagi imajinasiku.
Huruf-huruf mulai berlepasan. Huruf-huruf itu meninggalkan kertas. Huruf yang lalu menyerbu diriku, menjejali otakku dengan berbagai ide dan hiruk pikuk kesibukan. Aku kewalahan. Jantungku mulai berdetak kencang. Keringat dingin mulai meleleh. …

Wajahku kini terlihat tidak teratur………………..
Semua telah kukeluarkan…

Dan Seperti biasa, aku berselancar di dunia maya….
melalui akun Facebook………..

Goresan pertama pun dimulai………………………

“10 menit lagi aku pulang…,” begitu katanya dalam SMS yang ia kirim berapa hari lalu. Tanpa singkatan. Namun penuh penekanan. Aku harap, ia dalam keadaan tenang, seperti saat ia memainkan jemari di atas tuts ponsel miliknya untuk menjawab pesanku yang penuh dengan kegelisahan.
“aku di depan,dmna?”
Tanpa peduli melihat bajuku yang cukup kuyup karena menembus rintik hujan hanya tergesa untuk menemuinya di tempat itu. malam itu.. Aku tersenyum  aku melempar pandang, tak berani menatap matanya yang selalu membuatku …….……
Seperti yang ia janjikan, ia menghampiriku dengan wajah lesu dan tenang...
Perjalanan demi perjalanan akhirnya sampai pada titik TO THE POINT….!!!! (OMG) ugghhh…
Di balik wajah yang tenang itu, aku tahu, ia siap menikam dengan kata-katanya yang tajam tanpa memberi aku kesempatan......
Aku menunduk, menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. “Oke, aku akan coba mendengarkanmu,” aku hanya berkata begitu (dalam hati)….


Aku pun terdiam. Kutunggu ia melontarkan kalimat selanjutnya……

Aku bisu. Memilih waktu yang tepat untuk menutupi keadaan yang sebenarnya.
“ maaf. Aku terlalu banyak kekurangan dan kesalahan..” setidaknya hati nuraniku berkata seperti itu…

Tak tahan lagi dengan keadaan itu. Akhirnya kita pulang dengan alasan masih banyak kerjaan menanti dan malam pun semakin larut. Sebelum kuhidupkan motor ku, Aku tersenyum,,, kunyalakan mesin motor dan melaju sekencang mungkin…
Nada suaraku terlihat begitu riang. Biarlah, ia takkan tahu yang sebenarnya terjadi dalam hati. Bukankah cinta yang sejati tidak memaksakan untuk memiliki…….

“ Cinta dan benci begitu berbeda, tapi sungguh tipis jaraknya. Hanya dibatasi oleh selembar rambut. Empedocles, seorang filosof dari Sicilia (490-430 SM), berkeyakinan bahwa ada dua kekuatan yang bekerja di alam. Dia menyebutnya cinta dan perselisihan. Cinta mengikat segala sesuatu dan perselisihan memisahkannya. Inilah yang mempengaruhi unsur-unsur yang terdapat di dalam tubuh. Pada akhirnya tergantung pada kekuatan mana yang menarik kuat. Akan berbeda sekali bila segalanya dibaluri oleh kasih, kebencian akan melunak dan cinta akan dipenuhi oleh kerasionalitasan…..”
Tak ada rasa kecemburuan, tak ada rasa menjadi orang kalah. …..

Aku hanya menikmati mimpi-mimpi tanpa ada ingin memilikinya kembali, sebab itu sungguh sangat mustahil. Dan tak ada tanya untuk itu.,…….

its gone……..

Kepalaku ikut mual, . Tapi oleh segala tanya yang dari dulu belum pernah terjawab.
Seperti apakah bentukmu itu cinta? Begitu ganasnya racunmu.
Dan kembali aku terus bertanya-tanya pada setiap langkahku.,…………………………?????????????????????????????????

Malam semakin menusuk. Bulan sabit mengoyak habis awan putih di langit. Ia menyembul dengan bangga tanpa penghalang. Bintang-bintang bersinar di kejauhan. Semakin tua malam, semakin ramai bintang berkejaran. Tidak demikian dengan hatiku. Aku kembali ke dalam rumah menuju kamar. Malam yang sangat berat, selain harus melawan insomnia akupun harus melawan dominasi wajahnya yang tergambar jelas di langit kamar. …..(kembali pada dunia nyata)

Aku termangu. Bisu sejenak. Mengatur nafas. Memastikan bahwa aku cukup waras untuk melakukan hal-hal di luar logika. Aku tentu tak akan menghancurkan reputasi nama baikku
sebagai penyandang psycho hanya gara-gara……( itu sudah lewat )

life must go on …
I believe I can fly….
Thank You vo loving me (^_^)

Sepertinya otakku terlalu lelah untuk diajak berimajinasi terbang ke mana-mana….
Aku diserang rasa kantuk maha dahsyat dan selanjutnya tertidur lelap….

Semua telah dirasakan,semua tanya telah dijawabnya…
Thnx God….thnx vo everything…..
zzzzzzZZZZZZZZZZZZZZZZZZZzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzZZZz…zz.zz.zz.zz..

inpirate by someone at somewhere

Thursday, March 8, 2012

MENCARIMU (Catatan lepas dari bukit Padadita)


MENCARIMU
(Catatan lepas dari bukit Padadita)

Sang waktu menyeret pergi senja lalu seperti biasa dengan terseok, dihantarnya dewi malam ke penghujung hari. Padahal bagiku senja masih terlalu dini untuk dirampas dariku. Serangkaian ritual eksplorasi menikmati senja, baru saja kumulai. Apalagi kalau bukan dengan rokok dan segelas kopi kental pahit. Sayup suara alat musik tradisional khas alam Sabana ini, mulai mencoba mengikis diamnya malam. Seolah tetabuhan itu sedang berusaha menjadi pelukis yang baik atas kehidupan mistis masyarakatnya. Nun di punggung bukit, kerbau serta hewan yang diternakkan di padang, mulai merengek minta dikandangkan. Sudah sejak tadi burung-burung bertengkar berebutan mencari tempat berteduh. Kukira sebentar lagi ritus kehidupan segera berhenti di atas atmosfir negeri Sandlewood ini.
            Di bawah neon 40 watt, aku masih terpekur dengan refleksi bulanan yang harus dikumpulkan lusa nanti. Sudah dua bungkus rokok kuhabiskan sekedar untuk mengusir kantuk (alih-alih untuk mencari ide). Dan seperti setiap satu batang rokok yang habis kuisap, seperti itu pulalah kumpulan ide yang bermain di kepalaku. Habis-hilang, entah kemana. Datangnya ide menjadi secepat dia pergi saat aku berusaha untuk mengembangkannya. Aku bingung, bahasa apalagi yang harus kutuangkan di atas kertas bergaris ini. Pelbagai kalimat klise dengan sedikit bunga kata sudah kubongkar dari semua perbendaharaan kataku. Beberapa bumbu kisah kutulis di dalamnya, untuk sekedar membungkus kemunafikanku yang gagal menemukan esensi sejati dari menulis renungan untuk kebutuhan banyak orang. Apalagi renungan ini akan dibawakan dalam salah satu ritus religi agamaku. Takut pula aku membayangkan jika aku hanya melakukan kesalahan yang sama dari para tetua (baca:pemuka) agamaku, yang kadang menulis renungan asal-asalan dan yang penting jadi. Tanpa ada muatan pengolahan rasa dan pengalaman serta niat yang luhur untuk menghantar para pemeluk agama kami pada perenungan diri demi menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tapi, apa yang kutakutkan itu, sebenarnya sedang pula aku lakukan. Aku menulis renungan dengan buru-buru hanya demi mengejar deadline: penampilan khotbah renungan pertama kaliku sejak aku diterima pada (biara) konggregasi yang berpredikat sebagai “pengkhotbah” ini. Soal “menyeret orang lain dan menenggelamkannya pada kolam keyakinanku” bukan hal yang sulit bagiku. Namun, kali ini aku harus mengakui kalau aku gagal dalam membuat berbagai narasi dan argumentasi yang bisa mendukung isi renunganku ini.
            Aku sedang kalah oleh jiwaku sendiri. Jiwaku bahkan lebih parah lagi…Ia sedang kalah dengan gelisahku. Kegelisahan yang aneh, yang sudah bertahun-tahun aku lupakan caranya untuk mengatasinya. Lupa, gara-gara urusan afeksi dan perasaan ‘istimewa’ yang disebut CINTA itu, pada jalan yang sedang aku tempuh ini, ia sungguh menjadi tabu-haram. Siapapun yang hendak menjadi Paderi alias Pastur, haruslah mampu menghilangkan keinginan pada ketertarikan dengan lawan jenis dan mengolahnya menjadi pelayanan yang sakral, hanya pada Tuhan dan umatNya.
Aku sedang gagal menyeimbangkan “ratio” dan “emotio”-ku. Lagi-lagi, aku merobek refleksi kesekian belas yang setengah jadi itu dan mencampakkannya begitu saja ke lantai. Tentu saja sambil membuka koleksi sumpah serapahku dari bahasa nenek moyangku nun jauh di kampong sana, sampai makian terkini yang katanya lebih ‘funky dan gaul’ itu.
            “Sial..!!”, umpatku dalam hati. Untuk kali yang tak terbilang lagi, bayangan gadis itu muncul. Sepertinya alam bawah sadarku – atau mungkin hatiku – tak pernah bosan-bosannya menyiksaku. Aktivitas harianku pun mulai terganggu. Tak jarang aku ditegur paderi pembimbingku, bahwa aku sering melamun dan kadang tersenyum sendiri. Bahkan, Rinto, temanku pernah sekali waktu berkata :
            “Kawan, jangan-jangan kau kena le’u-le’u (baca: guna-guna). Aku punya kenalan seorang pendoa kharismatik. Mungkin beliau bisa membantumu.”
            Dalam hati aku hanya bisa geli mendengar kata-kata sahabat baikku itu.
            “Yah, aku butuh pendoa untuk bisa membuat dia hadir disini di depan mataku…”,aku membatin.
Sudah sakit dunia ini. Semua hal yang tidak mampu dijelaskan dengan akal (yang sehat tentunya), malah ‘diusahakan’ untuk dijawab menggunakan jawaban-jawaban dari dunia meta-fisis. Mitos dan hal-hal berbau mistik lainnya menjadi laku keras dan diyakini sebagai kunci jawaban utama dari semua kejadian yang (menurut orang di kampungku) tak sampai ke ranah penalaran mereka. Maka, jadilah aku juga menjadi salah satu korbannya. Rinto, seorang pemuda cerdas yang seperti aku juga sedang mengecap dunia filsafat dan berbagai alam pemikiran dalam silabus-silabus ber-font 10 itu pada pengapnya perpustakaan biara, namun lihatlah caranya berpikir dan menanggapi segala sesuatu di luar konteks rasionalitas: dengan nista dan keji dia menganggap aku terkena mantra guna-guna…dari seorang gadis yang sedang kupuja pula!!!
“Mana mungkin gadis sepolos dan sebaik dia tega berbuat seperti itu? Pantaskah aku menuduhnya sekeji itu? “, tanya batinku seolah sedang mengadiliku.
Memang ini bukan kali pertama aku dipeluk perasaab aneh seperti ini. Namun, tak selamanya gadis pertama adalah cinta pertama, bukan? Aku pernah melewatkan saat-saat pengolahan yang mudah bersama Lidya, Waty, Ina dan Ike. Bagiku, keempatnya adalah bunga-bunga segar dalam perjalanan ‘panggilan’ yang (kukira paling) suci ini: mengabdi padaNya dan umatNya. Progress yang harus kulewati terasa lebih jauh lebih mudah dengan keempat gadis tadi  ketimbang dengan ‘wanita besi’ ini. Hehehehe…yah, kusebut ‘wanita besi’ karena baru dia yang membuat progress dan  pengolahan rasaku kali ini kacau balau. Rusak total. Pemahaman-pemahaman baru yang kutemui saat mulai mengolah ‘dunia rasaku’ ketika bersua dengannya, sukses menjadikan ia wanita  limited edition dalam hidupku. Dengan keempat gadis terdahulu, selalu saja ada turning point yang membuatku tak sanggup mengkhianati keputusan dan pilihanku saat ini. Semoga turning point itulah yang akan membuka pikiranku (lagi) dan menajamkan mata hatiku (kelak), agar mampu melihat kembali dan menemukan jalanku yang sebenarnya; yang seharusnya kutempuh.
Jadi, jelaslah sudah bagiku, cinta hanyalah sebuah permainan untuk mendapatkan sebuah titik balik alias turning point tadi sebagai pembaharu hidup dan me-refresh seluruh rencanaku menjalani hidup ini. Doktrin ini, terpelihara dengan baik di bawah bayangan trauma cinta masa akil baliq. Dan, sekarang aku sedang menanti kedatangan dewa penyelamatku itu: Turning Point tadi, yang tetap kuyakini akan melepaskanku dari penjara bayangan gadis itu. Pikiranku memperkirakan sebentar lagi titik balik itu akan segera dating, tapi hati kecilku berbisik: “Kau salah besar, Bung!!”

*******

            Santy, itu namanya. Bukan baru saja kukenal gadis ini. Aku mengetahuinya sejak kami kecil. Meskipun, aku tak begitu yakin apakah dia masih mengingatku saat kami di usia TK dan SD itu. Kebetulan, ibunya adalah teman baik ibuku kala bersekolah di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dulu. Dan, kebetulan lagi, keluarga kami sering bertemu di acara-acara maupun pesta keluarga Maumere di kotaku tercinta: Kupang. Maklum, ibunya berasal dari tempat yang sama dengan ayah dan ibuku dilahirkan: Maumere, sebuah kota pelabuhan di daratan Flores. Bertahun-tahun, tak pernah melihatnya lagi. Hidup berjalan. Waktu tersaruk mengejar hidup dari belakang. Hampir tak ada yang tersisa lagi , mengenai ingatan tentang sosok gadis ini. Dan, memang tak ada pikiran sama sekali tentang gadis ini. Satu-satunya yang tersisa adalah ingatan mengenai perangainya di masa kecil yang pecicilan kesana-kemari, ribut, bahkan sering kurang ajar dan pandai berkelahi dengan anak pria seumurannya (bahkan yang lebih tua pun dihajarnya). Itu saja. Tak ada yang istimewa. Tak ada yang begitu special.
Sampai suatu ketika, tepatnya dua tahun yang lalu, saat aku berlibur dari sekolah asramaku dan pulang ke Kupang. Dalam suatu acara keluarga waktu itu, hadir pula keluarganya. Bahkan oknum ini pun ada. Tapi, hey…ada yang berubah pada dirinya. Mestinya ada sesuatu yang istimewa saat aku melihatnya kali ini. Entah apa itu aku tak tahu dan tak mampu menjelaskannya. Inner beauty-nya, sukses memberikanku pandangan baru yang amat berlawanan dengan pandangan umum tentang gadis-gadis zaman sekarang, yang katanya lebih ‘gaul’, walau entahkah saat itu aku tengah dibutakan (sebuah) pandangan pertama. Bagiku, kali ini merupakan penglihatan (kalau tak dapat dibilang pertemuan, sebab kami berdiri jauh-jauh dan tanpa ada komunikasi verbal apapun) yang istimewa buatku.
“Tapi mana mungkin, dia kan hanya seorang gadis SMP…seorang anak bau kencur…mana mungkin aku suka apalagi jatuh cinta padanya”, lagi-lagi batinku berusaha menjadi sang pengadil, yang berusaha menjaga keseimbangan antara area ‘rasa’ dan ‘nalar’-ku.
Jujur saja, bagiku ia berubah. Sangat jauh berubah. Ia hadir dalam kesahajaan yang anggun dan ketegasan yang pasti, itu kesan pertamaku yang kutangkap dari wajahnya yang agak polos dan lugu itu. Dia sunggguh menjadi cermin dari sebentuk jiwa yang lembut namun kokoh. Sungguh tipikal pencitraan figur yang selama ini kukira hanya ada di komik-komik Jepang itu atau di sekumpulan novel asing yang sering kutemukan tak terjamah di sudut gelap perpustakaan seminariku.
Dan, mudah ditebak bukan. Semenjak itu aku memang mulai sering memikirkannya. Celakanya, baru-baru ini sebelum datang ke biara ini, aku sempat melihat lagi foto-foto masa kecilku di rumah. Dan…hey!!! Ada foto dia disana juga. Hhmm…entah dimana gadis itu sekarang. Gelisahku semakin menyiksa. Dan malam makin pekat di batas hari. Pekat dan penuh pula rasa dan nalarku.

*********
“Aku mencintaimu…kurasa…”, kataku hampir tanpa ketegasan. Mungkin, karena takut terhadap kenyataan dan komitmen atas jalanku sekarang.
“Mungkinkah itu? Sementara kau dan aku memiliki dunia yang amat jauh berbeda. Perjalananmu yang sekarang saja membangun tembok yang tinggi dan besar. Kupikir saat ini kita berdiri di jalan dan di dunia yang berbeda…”, datar jawabnya.
“Mengapa tidak? Bukankah bunga dengan beragam jenis bila disatukan dalam sebuah vas akan tampak lebih indah?”, lanjutku dengan sedikit memaniskan kata menggunakan analogi usang ini.
Mungkin bisa meyakinkannya, yah…paling tidak menggoyahkan pendapat ‘wanita besi’ ini. Aku tahu ia bermaksud mengingatkanku akan pilihan dan perjalanan hidupku saat ini yang ingin menjadi pastur itu.
“Kamu tahu bunga Edelweiss?? Ia bisa tumbuh di atas batu karang, karena alam memberinya tempat dan kesempatan. Dan lihatlah, ia menjadi bunga yang sungguh indah dan langka. Beri aku kesempatan dan akan kubuktikan bahwa cinta yang sejati dapat tumbuh di atas perbedaan-perbedaan pilihan, sekeras apapun pilihan itu…”, lagi-lagi jurus analogi yang kulancarkan.
“Kena kau!!”, kataku dalam hati. Aku sudah bisa mencium bau kemenangan, ketika akhirnya dia menyambung perkataanku dengan kelembutannya yang tak dibuat-buat:
“Kesempatan dan kemauan haruslah searah berjalan. Di saat yang satu berjalan yang lain menopangnya. Di saat kesempatan untuk mencintai ada, kemauan untuk mencintai pun harus membayanginya dari belakang…Aku punya kesempatan buatmu, tapi aku ragu pada kemauanmu”.
Sejenak darahku terasa berhenti beredar. Harus kuakui aku terkejut. Dan, aku tahu pasti seperti apa wajah konyolku saat itu.
“Percayakan saja pada waktu nona!! Dan, kau akan tahu betapa aku mencintaimu!”, tangkisku sia-sia. Aku merasa seperti serdadu tolol yang kehabisan peluru tapi masih berusaha menembak musuh.
Tiba-tiba tawanya pun pecah. Hhmm…Manis sekali. Dari balik senyumnya itu, ia berkata kepadaku, “Kurasa…aku juga mencintaimu!”. Senyum itulah yang membuatku yakin, bahwa aku ‘lulus’ ujian itu. Hujan di luar sudah lama reda. Matahari pagi yang seharusnya sudah muncul dari tadi, malu-malu keluar dari balik awan hitam. Lega rasanya. Namun, lamunanku ini dihentikan paksa oleh suara lonceng biara yang memekakkan telinga. Sekarang saatnya ibadat pagi. Mungkin lain kali saja baru kulanjutkan menikmati ‘fatamorgana’ku tadi. Ini seperti menjadi obat atas kegelisahanku mencari oase pemuasan akan sosok Santi. Time to go back to my real life!!! Masih ada ibadat pagi, misa pagi, sarapan pagi bersama, kuliah komunitas, kerja dan serangkaian aktivitas monoton-membosankan yang harus kulalui hari ini. Mungkin di antara aktivitas menjemukan hari ini, aku akan melanjutkan menikmati ‘fatamorgana’ku lagi: Santy!!

************

Laut di kaki bukit ini masih seperti biasanya, berbaring angkuh sampai di batas horizon. Seakan dengan pongahnya ia menunjukkan kekuatannya menyimpan Santy-ku di ujungnya yang lain. Waktu terus menyeret kehidupan sambil melempar siang dan malam ke dalam kehidupan dunia. Segala sesuatu di sekitarku bergerak seperti biasanya, termasuk juga kecambah di lembah, yang kini disulap alam menjadi barisan padat-sejuk lamtoro gung. Dan aku? Aku akhirnya kembali menemukan diriku sedang tersaruk melangkah mengejar sebuah “titik balik” yang tak pernah pasti datangnya. Aku juga menemukan satu kenyataan (pahit?) bahwa lembaran indah yang sering kuimpikan di senggang waktuku untuk bersama Santy perlahan mulai kosong. Tak tertulis apapun jadinya. Jauh punguk dari bulan, rupanya. Entah dimana gadis itu sekarang. Tak pernah lagi aku tahu kabarnya. Rupanya pameo klasik “jauh di mata, dekat di hati” gagal membuktikan kesakralannya sebagai anak dari pengalaman. Bahkan, credo filsuf Yunani, Plato, bahwa cinta adalah keabadian (tak bertepi), takkan meruntuhkan tembok keyakinanku saat ini bahwa kami takkan pernah bertemu lagi.
Aku tahu, bisa jadi aku adalah korban sebuah permainan. Permainan antara hati dan otak, antara logika dan rasa, antara apa yang aku rasa dan apa yang aku pikirkan. Toh, kalau sampai sejauh ini aku masih mencintai Santy, itu hanya karena sebuah keyakinan yang terpatri di dada bahwa Santy adalah gadis sempurna yang selalu member kesegaran pada jalan pilihanku sekarang: menjadi biarawan berkaul tak kawin, sederhana dan taat pada pimpinan. Membayangkan Santy sebentar saja, seolah membuat mentari pagi dua kali lebih hangat dari biasanya.
Lonceng biara lagi-lagi bergema. Angin sore tak tergesa berlari di antara pohon pinus dan lamtoro di lembah sana. Senjaku sedang indah dan terlalu sia-sia untuk tak dinikmati. Semburat lembayung tipis berpadu nyala mentari sore yang temaram lembut, membuatku terpekur dalam mata terpejam. Mungkin ini namanya ‘sindrom senja’, karena  ajaibnya di senja yang indah ini sering raga tak ingin bergerak, inginnya waktu berhenti sedikit lebih lama agar kureguk kepuasan menikmati senja ini. Dan, dengan kepastian yang mantap, satu demi satu kata kurangkai untuk
“Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku.
            Mengenal hidup.
Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta,
            Tak bermuara.
Engkaulah matahari Firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara(ku)
            Engkau hadir dalam ketidak-mengertian. Gerakmu tiada pasti.
            Namun aku terus disini (dalam jalan Tuhanku)
            Mencintaimu.
            Entah kenapa….”
Paragraf pembuka itu—yang sengaja kupinjam dari novel Supernova, karya Dewi Lestari—kutulis penuh perasaan, sambil terus kupandangi wajah Bundaku dan jubah putihku pada gantungan di sudut kamar.
Senja makin merah di kaki langit. Dan, aku pun masih mencintai panggilan hidupku menjadi pastur…. Maaf, mungkin juga aku masih mencintai Santy. Selamat sore!!







Buatmu:  
yang kucari bayangmu pada seribu malam,
yang kucari senyummu dengan membiarkan jiwa terbunuh rasa
yang kucari sejatimu di ujung senja bukit ini
yang kucari dirimu di tajam pena menari
buatmu, Santy-ku
Waingapu, Valentine Day 2002

Wednesday, March 7, 2012

magic words of Richard Marx...

Nice poem by Richard Marx, absolutely this is not only lyric of a song!!!


Until I Find You Again

Lately I've been trying
To fill up my days since you're gone.
The speed of love is blinding,
And I didn't know how to hold on.

My mind won't clear.
I'm out of tears.
My heart's got no room left inside.

How many dreams will end?
How long can I pretend?
How many times will love pass me by,
Until I find you again?

Will the arms of hope surround me?
Will time be a fair weather friend?
Should I call out to angels,
Or just drink myself sober again?

I can't hide, it's true.
I still burn for you.
Your memory just won't let me go

I'd hold you tighter,
Closer than ever before.
Yeah.
No flame would burn brighter,
If I could touch you once more,
Hold you once more!

How many dreams will end?
How long can I pretend?
How many times will love pass me by,
Until I find you again?












PER MIO CAELI SANCTI


PER MIO CAELI SANCTI
When west wind move
bring all those memories
behind the lullaby smell of our home town
You'll still find me
staring at the sky
and wondering
when His miracle come upon me...
when He sends me an angel
to walk me trough those hell..

You ask me if I love you
And I choke on my reply
I’d rather hurt you honestly
than mislead you with a lie
And who am I to judge you,
On what you say or do
I’m only just beginning
To see the real you

But it is fine
if you ask me
'bout how my life's goin
telling you a lie
that I always trying to be good
just to make you feelin' right
'bout every move you make
and every step you take...

If love will set us free
then, let it be done...
If they said "Love will keep us alive"
then, let it be done...
but if love (for you)
is never enough
then, let it be done...

Perhaps, next morning I wake up
an angel knock my door
I'll say to her:
"Good things take times
great things happen all at once!
so, let's just believe that
good things always come
to those whose wait..
and great things always find its way
to those whose dare to live their hopes…"

But still
far away in my deepest
I wondering
that the angel is always been you
You still know how to find me, don't you?
Like you always know how to find your home…



Yogya, 6 Maret 2012

Thursday, March 1, 2012

Mengenang 7 tahun itu...(Terima Kasih ITA...)

Mengenang 7 tahun itu...(Terima Kasih ITA...)

Pada 5 April 2009 pukul 20:58

Hari ini, ku masih di Yogya, masih dengan kehidupanku (lagi)..
Untuk menghadapi hari kenangan tahun Ketujuh kebersamaan kita...tidak berlari dari egoisme manusiawiku, dalam luka dan sedih berlarut...yang hanya membawa suatu akar kepahitan dalam perjalananku mencintai hidup...aku tetap di Yogya untuk menghadapi kembali, dengan syukur dan harapan, dengan tidak ada penyesalan lagi, dengan melawan ego dan memori...dengan hati yang mencintai..yah, mencintaimu...

10 januari 2002, perjalanan cintaku dan mu dimulai, semua yang indah dan manis dalam cinta, sayang dan sentuhan perempuan dan lelaki kukenal, kupelajari, kurasakan dan kunikmati..meski sebenarnya tembok biara dan Ikrar kaul hidup bhakti ku pada umatNYa melarang adanya cinta kita...tapi aku tak peduli...aku lelap dengan fatamorgana cinta kita...aku nyaman utk mencintaimu...
Indahnya menjalani hari, di NOvisiat Biara Redemptoris, di tiap inci tanah kelahiranmu Negri Sandlewood, di beranda pintu biara , di lapangan dekat sebuah Lembaga Pemasyarakatan di Waikabubak,lantas di DKuta- Bali (masih ingatkah kau??), di perjalanan menyusuri tiap ruas jalan di pulau Jawa, di setiap sudut, tak ada yang tak mengenal kemesraan dan hiasan cinta sepasang manusia...aku dan kamu..
Indahnya hari2 itu..saat kita bersama saling belajar tentang Cinta...
seakan kita tak pernah bosan mengatakan pada dunia, bahwa kita saling memiliki...

Kita pernah dengan naifnya ber-nazar untuk menjadi pasangan yg tak mungkin terpisahkan...mungkin karena terlalu mudah memahami, mungkin karena terlalu sering bersama melempar waktu keluar dari kebersamaan kita...
Mungkin terlalu saling mengerti,,,mungkin terlalu sayang,,,mungkin terlalu mirip,,,mungkin...^_^, tersenyumku mengingat semuanya dalam perjalanan hari ini saat aku lewat di Klitren, satu lokasi padat di Yogya tempat kita sering membuat tapak pada sempit jalan2 gangnya...tempat kita saling mengenal perasaan aneh yg kita sebut CINTA...Tempat kita melarikan diri dari rutinitas kuliah...untuk sekedar mengeksplorasi kekuatan cinta kita...pffhh...sempurnanya saat saat itu...
Atau di Malioboro tempat kita menguji kualitas lidah kita lewat wisata kuliner berdua sekaligus memperdalam pengenalan akan tiap sisi jiwa kita masing2...indahnya saat2 itu...

Tidak mudah melupakan dan tak harus dilupakan, dan kumenikmatinya, karena tidak ada kenangan kita saling menyakiti...hanya canda tawa, serius kala waktunya, bercinta, saling bertatapan, ciuman sayang di kening, saling memberi motivasi, berbelanja, bergandengan tangan, mengerjakan skripsimu, mengerjakan tugas kuliah bersama...
yang tersimpan rapi dalam kenangan hanya saat-saat kau menjadi bara api semangat saat aku kehilangan spirit...saat kau menjadi air penyejuk ketika aku kalap-khilaf-marah pada hidup...saat kau menjadi angin sore tempat aku menuai istirahat...saat kau manjadi rumah buat jiwaku yang haus mengembara...saat kau menjadi sepercik harap ketika banyak hal menjadi tak pasti dalam hidupku...saat kau menjadi oase ketika hidup menjadi lelah untuk dijalani...
Dan ketika banyak manusia sinis memandang cinta, kita mereguk semuanya sampai setiap tetesnya...sampai tak ada yang tersisa...sampai kita pun bingung pada defenisi cinta itu, saking bahagianya kita meraup tiap sarinya...

Dan hari ini, dg senyuman mengenangmu, setelah segenap jiwa dan menguatkan hati kumemencet kembali no telp yang dengan mata tertutup lancar kulakukan,
Mendengar suaramu kembali, aah...kaupun menderita sayang, untuk melepaskan 7 tahun memori kita, bukan hanya aku
Dan untuk bahagiamu kulepaskan semua ego dan rasa
Karena mencintaimu adalah melihat dan mendengarmu bahagia...kurelakan kau pergi, berbahagialah sayang, dengan pilihan hidupmu, karena itulah bentuk cinta kita selama ini, cinta yang melepaskan dan tidak meminta...mungkin kita terlalu saling mengagumi dan pasti ada pembelajaran dari ini semua, rahasia hidup yang membuat hidup ini hidup...
Dan untuk tawamu..kurela memintaNYa mengajariku memaafkan dan melupakan...mengampuni dan membiarkan...agar aku pun mampu melewati malam2 yang terasa makin berat dan panjang...
Agar aku pun mampu menerima bhwa jarak memang lebih tega dari segalanya...
Agar aku pun bisa membiarkan diriku dibentuk jg oleh proses ini...

Mendengarmu menangis ditelpon membuatku tak tahan...bukan caraku mencintaimu untuk membuatmu menangis, bukan itu cinta yang kupelajari dan ke bentuk dalam diriku...7 tahun menemanimu, kamu bukan hanya kekasih, tapi sahabat dan saudari terbaik bagiku...

Atas nama cinta dan hidup, berbahagialah dengan pilihan hidupmu sayang, serela hatiku menerima, segenggam doaku untuk dia bisa mencintaimu sepertiku pernah memberimu sebagai seorang kekasih ^_^,,, dan tetap memberimu sebagai seorang sahabat...
tak ada yang paling salah atau benar,,, tak ada yang harus disesali dalam mencintai begitu dalam, karena sampai di titik pembelajaran,,,mencintai adalah memberi dan melupakan,,, karena segala sesuatu ada waktunya diatas langit dibawah bumi...

Hanya bahagia yang kukenang .... sampai waktu mempertemukanku kembali dengan dia yang diberkati untuk menjadi pasanganku menikmati dan mengisi hidup dengan cinta sepasang manusia...

Maafkan kutak bisa hadir untuk sekedar menenangkanmu saat kau terluka karena pilihanmu, karena kupun perlu waktu untuk menerima kekuranganku sebagai insan juga...karena meski aku lelaki yang harus bisa menyembuhkan dirinya, aku juga harus mengenal dulu bagian manakah dalam diriku yang terluka??
dalam cintaku yang tak berubah, kuberkati pilihanmu, sahabatku, saudariku, wanita terbaikku ...tak ada yang berubah, jalan hidup kita tak harus bersama untuk merelakan dalam mencintai

Tetap semangat dalam mengejar mimpi dan harapanmu...seperti sepenggal cinta kita pada ilmu dan pengetahuan...berguna bagi orang lain dan sekitar kita

Dari seorang kekasih...sekarang kuterima keberadaan persahabatan kita, tiada sesal lagi...karena hidupku indah mengenangmu dlm setiap waktu persahabatan kita..meski ada luka yang kau tinggalkan di hari ultahku ke 26...ingatkah kau pada 23 November 2008 itu??saat kau memberi hadiah yang tak akan kulupakan seumur hidupku...saat kau bilang kau bukan lagi milikku??

Doa dan cinta, kukembali ke Yogyakarta untuk hadapi kembali
Dan tersenyum saat kita kembali berbicara untuk saling menguatkan....indahnya kehidupan
Teriring doa dan maaf, aku cuma bisa lirih berbisik dalam doa : 'TERIMA KASIH, NONAKU..."

MENJADI

MENJADI

Menjadi...
ketika pertama kali aku dilahirkan, secara fisik aku telah MENJADI seseorang...
ketika aku menginjak bangku pendidikan untuk pertama kali, aku MENJADI seseorg yang belajar...
ketika aku memasuki masa pubertas, aku MENJADI seorang remaja, lantas MENJADI pemuda...
ketika aku bertemu masalah aku MENJADI hidup...
ketika aku jatuh, aku MENJADI belajar...
ketika aku bangun, aku MENJADI kuat...
ketika aku sedih, aku MENJADI tau arti airmata (yg bkn hanya milik wanita!!!)...
ketika gembira, aku tau aku MENJADI tau arti berbagi...
ketika susah, aku MENJADI tau bersyukur...
ketika senang, aku MENJADI lupa diri...(hehehehe)
ketika dilukai, aku belajar MENJADI pemarah sekaligus pemaaf...
ketika dikhianati, aku MENJADI sedih lantas MENJADI mengerti arti kesetiaan...
ketika gagal, aku belajar MENJADI sukses...
ketika aku jatuh cinta, aku MENJADI pria paling beruntung...
ketika ditinggalkan, aku MENJADI tau cara mengumpat dunia...(hahahaha)
ketika dicintai, aku MENJADI melankolik...
ketika disakiti, aku MENJADI sanguistik...
ternyata itulah hidup...hidup adalah tentang MENJADI...
hidup mengajarkan aku untuk MENJADI...
jika dijalankan dengan bijak dan penuh cinta (and doa)...ternyata hidup bisa MENJADI begitu indah...
seindah kupu-kupu yang MENJADI kepompong...tentu saja itu hanya untuk orang yang mau bersabar dan berbesar hati untuk belajar dari proses dalam kehidupan ini...selamat MENJADI...mari MENJADI..jangan takut untuk MENJADI!!!

"...Tuhan ajarkanlah aku cara untuk MENJADI sebatang pensil di tanganMU yang Maha Agung itu..."

Doa Matimu!!

Doa Matimu!!

Lantang-garang pekikmu...
kuat-padat teriak idemu...
di terik matahari '97...
seolah bara mudamu mampu memindahkan gunung...
kini pulas-puas kau berbaring di Senayan...
nyenyak-tak terhenyak kau di kursi 24 juta rupiah itu..
lelap kau atas suara rumput kotor di pinggir Monas...
buta dirimu setelah menelan Apel Malang pemberian si Eva...
ternyata kau cuma boneka ladang pengusir pencari keadilan di kebun DPR...
terhinalah kau, sebagai manekin di toko busana pemerintah...yang mengkhianati pengabdian dgn pencitraan..
Moga di pagi hari kau bangun...matahari menjadi hitam buatmu...
agar gelaplah mata hatimu...
dan matilah kau digerogot busukmu!!!


(dari aku yang mendoakan matimu!!)
Rawamangun,20 Jan 12

Mati Nurani...

Mati Nurani...


Mati Nurani...
bukan judul..bukan berita...
di sudut got tikungan Cakung...
di pengap kumuh Rawa Bebek...
moga cuma suri matinya...
agar besok lekas bangun si Nurani, penjaja salak layu...
renta 70 tahun...
menyusur lantai stasiun...
buat menjual salak di Senayan...
pengganti Apel Malang, katanya...
bangun Nurani!!
cucumu bercucur airmata memanggilmu!!
meski anakmu diam di tepi malam...


(Jatinegara-Bekasi, Medio Januari '12)
Ryfal

KEAJAIBAN...

KEAJAIBAN...


Mengenangmu,membuat waktuku terhenti sebentar..
mengingatmu,membuat sesak logika oleh rasaku..
Kemarin,hari ini, dan besok..
tetap tersenyum ku mengenangmu dlm perkabungan..
biar hentakn sang wktu,melontarkan kita pd pemahaman yg dewasa,
bhw kamu hny seorg sahabatku untuk 3 thn..tak lebih...
smoga demikian adanya selalu...
agar di batas hari,
kita mengenal dan mengaguminya
hanya sebagai keajaiban sebuah pertemuan...


(Aku, sahabatmu...!!)
Yogyakarta 2 November 2011

Ziarah Manusia

Ziarah Manusia


Lengang mimpi
Ketika fajar membawa rindu
Kucoba menghitung elok wajah dan ranum hatimu
Cuma
manusia
Aku
tak berarti di mimpi selangitmu
Tapi
hidup memang dibangun oleh mimpi
Maka
bermimpilah untuk nyata

Kini
aku kelana
Menempuh
amuk mahaluas gurun
Ziarah
yang tak kupahami jalan arahnya
Begitulah
suratan hidup manusia
Berjalan
dengan langkah penat dan telapak pecah

Berlari tertatih di bawah mentari garang
bersimpuh slalu aku di tatapan bringas sang nasib
Buat mencari secarik arti hidupku
pada lembar sempurna kitab rencanaNya...
habis waktuku..
purna sudah kesempatanku...
dalam pencarian tak berujung

Pada lelahnya tapak ini,
kutitip satu doa..
bahwa seberapa dalamnya nasib menghempas
seberapa kerasnya hidup menghajar...
KAU jaga langkahku,
agar setegar karang
kulawan ombak itu...
agar sekuat gunung...kutantang badai itu...
dan biarlah aku hangus,oleh cinta kepadaMU...

Satu pagi di Tugu Yogya

Satu pagi di Tugu Yogya

Sebungkus sudah…gumamku dalam hati. Baru saja kubuang puntung rokok terakhirku. Mungkin waktu juga belum sampai di angka 4 pagi, sebab lirih di balik bising kendaraan, adzan subuh belum berhenti berkumandang. Kucoba membuang jenuh dengan menghitung barisan semut pekerja yang sibuk merayap tak jauh dari kakiku mencari serpihan makanan, seolah tak mau kalah dengan para simbok pemikul yang juga sibuk menawari jasa pikulan rentanya dengan lembaran lusuh seribuan di pasar Kranggan ini, sebuah pasar di jantung kota yang tak jauh dari salah satu ikon kota pelajar ini: Tugu! Dengan segera menghitung barisan serdadu semut itu, menjadi aktivitas yang tak menarik lagi. Maka, habislah kreativitas mengusir jenuhnya nongkrong kali ini. Sebenarnya, tempat ini bukan the right spot untuk sekedar duduk dan terpekur. Hingar bingar para penjual sayur menawarkan dagangan pada para pembeli, beradu dengan bising kendaraan pengangkut pasar, menjadi sebuah paduan suara yang sangat jauh dari kata harmoni yang menyejukan hati. Capek, mungkin itu yang bisa mengamini alasan mengapa aku memilih tempat ini. Setelah berjam-jam mengelilingi jalan dan gang di kota ini dalam kebingungan, akhirnya penat juga badan ini, maka berlabuhlah aku di trotoar persis di depan pasar ini.
Bingung aku pada diriku jika bertanya (sekali lagi pada diri sendiri) apa sebenarnya alasanku memacu motor selama berjam-jam mengitari kota Ngayogyakarto ini. Mencari wangsit? Mungkin lebih murah dan mudah mencari wangsit di pengapnya bilik-bilik warung internet yang mendadak laris di kota ini (dengan bermain POKER mungkin?).
Mencari suasana baru? Tidak mungkin, karena sudah hampir 8 tahun mengeram di kota ini, aku telah sering melewati jalan-jalan itu. Tak ada yang baru sama sekali jalannya. Mungkin yang baru hanyalah, makin bertambah saja jumlah pemulung yang berlomba mencari sisa sampah semalam yang masih bisa dihargai seribu-dua ribu.
Mengusir gamangnya hati? Tidak juga. Karena aku tahu tempat andalanku mencari ketenangan hati, sambil mengeksplorasi spirit mudaku: kamarku sendiri.
Mencari daya tarik kota ini? Sudah pasti tidak, karena aku cukup tahu, kota ini telah kehilangan daya tariknya; buatku paling tidak  sejak wanita yang kusebut ‘pacar’ itu meninggalkan kota ini. Logika dan segenap pertimbangan akal sehatku tak mampu mengimbangi rentetan pertanyaan itu  lewat jawabannya yang presisi. Well, apapun itu, yang penting paling kurang dengan berjalan tak tentu arah ini, memberikan ekstra udara segar bagi dadaku yang beberapa bulan ini sering sesak saat malam datang.
Sesak karena masalah yang tak kunjung berhenti bersilahturahmi pada diriku. Sesak karena tak mampu menemukan jawab atas seribu tanya tentang esensi atas eksistensi hidupku. Sesak karena sudah lama pula aku menjadikan Tuhan itu sebuah kata, bukan ruh/roh; entah mulai kapan, aku percaya pada teori Big BangSupernova” serta berbagai omong kosong teori alam semesta dan bukannya pada Sang Khalik sebagai Causa Prima kehidupan ini. Atau bisa jadi juga sesak karena orientasi hidup yang juga sudah lama hilang ditelan ambisi menjadi kompetitor hidup yang selalu menang, dengan tidak mentolerir kekalahan/kegagalan. Mungkin juga sesak karena akal mulai diracun gas sianida bernama: Harta, dan jadilah aku “Soeharto” kecil yang mulai rakus melihat lembaran rupiah.
Lama aku terpekur kosong di trotoar setengah basah itu. Mencoba meyakinkan hati, jika pada titik ini toh aku masih hidup juga di dunia ini. Mencoba menyederhanakan hati dan pikiran bahwa tidak ada keputusan yang harus disesali di tiap pagi menyambut hari baru. Yah…sekedar membulatkan tekad bahwa hidupku masih patut untuk dijalani. Dalam pejaman mata sesaat, penggalan kata bijak pria yang dari kecil sampai sekarang kusebut AYAH itu terngiang kembali: “…seorang pria dihargai bukan karena ia berhasil menyelesaikan apa yang ia mulai, tapi karena kerendahan hati dan usaha mengalahkan diri sendiri dalam proses “menyelesaikan” tadi, sebab pria itu selalu to much pride, terlalu mengagungkan kebanggaan diri serta ego dan lupa belajar pada kesederhanaan dan kerendahan hati dalam tiap pencapaiannya…”. Di bawah temaram lampu jalan, aku mencoba mengekstrak penggalan ucapan tadi. Pada tipisnya gerimis yang melempar angin dingin ke sumsum tulang, perlahan aku paham maksud ucapan anak petani berpendidikan S1 Pertanian itu. Mungkin sudah terlalu lama, aku lelap pada mimpi-mimpi tentang ego dan kebanggaan diri. Baru sadar aku (mungkin meski terlambat?) bahwa tak terhitung waktu terbuang, kuhabiskan untuk merayakan rasa merdeka tinggal jauh di luar rumah. Sekian banyak tindakan sia-sia kubuat sekedar melampiaskan kekesalan pada hidup yang terlanjur kuanggap tak ada tujuan ini. Mungkin aku lupa belajar pada kokohnya dua pohon beringin tua yang berdiri bertahun-tahun di depan alun-alun selatan keraton Yogya, bahwa kesederhanaan itu bisa berarti sedikit bicara tapi tegas berdiri pada prinsip. Lupa juga aku berguru pada bijaknya tembok keraton, yang mengartikan kesederhanaan bukan pada keinginan membentengi ide-ide sendiri dengan congkak, tapi juga pada kehendak membuka diri pada orang lain dan membuat kita menjadi tembok nyaman tempat orang lain berlindung. Mungkin pada karang tepian pantai Parangtritis yang digempur ombak, aku bisa belajar menerima hempasan masalah yang datang sekeras apapun dan mengembalikannya dengan tenang kepada SANG PEMBERI. Mungkin aku terlalu lama tinggal dalam “kenyamanan” berbuat salah, tanpa ada tanggung jawab pada “otoritas” tertentu?. Mungkinkah juga  kesombongan komunal ke-Kupang-an aku (kalau tak dapat dipakai kata “kami”), membiasakan aku untuk juga menghilangkan bagian kompromistik, tepa selira dan rendah hati dengan komunitas lain saat ada konflik/gesekan, dan membiarkan aku terjebak pada solidaritas komunal yang palsu berdasar romantisme sejarah di kota ini, bahwa komunitas kamilah yang paling kuat dan tak terkalahkan; meskipun sebenarnya kesalahan ada pada pihak kami? Entahlah… Tak mau aku mencari kambing hitam di luar diriku…Mungkin lebih bijak mengeluarkan balok di mataku dari pada selumbar di mata orang…Dan masih banyak litani "mungkin" yang lain...
Jalanan basah sisa hujan malam tadi, perlahan mulai kering oleh lalu-lintas pagi yang berangsur mulai hiruk-pikuk. Sudah dari tadi pula, beberapa Polantas mulai beraktivitas di pos jaga sempit di sudut perempatan itu. Sepintas aku kaget kalau tanpa terasa ternyata sudah 120 kali matahari terbit, aku tidak mengunjungi gereja. Sudah lama ternyata, aku lupa berbagi cerita pada Sang Khalik. Terlalu lama aku menganggapNya cuma sekumpulan ritus dan tradisi menjemukan dari sebuah agama yang harus dirayakan setiap hari minggu. “Bang, permisi bang…mau bikin tenda jualan disini…” begitu bisik pelan plus takut-takut seorang ibu paruh baya, pedagang gudeg pagi. Aku tak heran dengan tatap ragu ibu itu, dengan perawakanku yang ABG (Agak Besar Gittuuuu… ) belum lagi kulit yang cenderung gelap, membuatku harus memikul stigma sejarah lokal kota ini bahwa pria Timor itu mudah marah tanpa alasan.
Dari sudut mata aku menangkap senyum sumringah ibu penjual gudeg itu saat motor membawaku perlahan pergi dari tempat itu. Matahari sudah sepenggalah tingginya. Angin pagi yang khas segarnya, membawa satu harapan baru. Yah..paling kurang aku masih lebih beruntung dari begitu banyak orang yang kehilangan harapan. Lupa aku mensyukuri tiap keping kebaikanNya yang kadang datang lewat cara yang aneh dan membingungkan. Pada usapan sang bayu pagi aku hanya bisa lirih berbisik: “Tuhan, taruh aku di tempat dimana Engkau mau memakaiku… Aku pasrah… Satu kumohon, buatlah supaya aku dan smua sahabatku disini dan dimanapun mereka berada, bisa berguna pada kehidupan ini…thnks banyak ya Bos!! sampai ketemu di gereja nanti bos...!!”


Minggu, 24 Oktober 2010
BUON DOMINGGO!!!Selamat Hari Minggu….


KUSIMPAN SAJA DI SIMPANG JALAN (ITU)...

KUSIMPAN SAJA DI SIMPANG JALAN (ITU)...


Sering, berdua kita tertawakan badai yang kerap datang...
bahkan kita mengejek datang dan perginya masalah di antara kita..
Mungkin, karena muda dan naif, tiap keping pengalaman (yg katanya adalah guru plg sakti) kita anggap sebagai angin sore yang lewat dan karenanya dia tak berarti apa-apa bagi kita.
Rasio kita yang (sok) akademis hanya mampu menerjemahkannya sebagai batu: Yang diam, keras, dingin dan tak berguna pada panjangnya jalan kita yang masih satu-dua depa ini...
Akal kita yang mengecap bangku pendidikan tinggi hanya mampu mencerna pengalaman sebagai tanah : Yang kotor, banyak debu, tak berarti apa2...

Di batas nadir jalan kita ini, baru aku tersadar...(meski terlambat)
bahwa kita, karena terpengaruh gaya berpikir simpel-muda-gaul-easy going yang bilang : "HADAPI SMUA MASALAH DENGAN SENYUM, TERTAWAKAN SEMUA HAL BURUK YANG PERNAH KAU PERBUAT..DAN SMUANYA AKAN BAIK-BAIK SAJA...", membuat kita tak pernah belajar apa-apa dari tiap masalah dan kejadian buruk itu...
bahwa kita, saking menganggap diri dewasa (seperti konon bnyk org dewasa) merasa telah bijak dengan cukup melupakan saja tiap masalah yang datang dan tak usah berguru padanya...dia kan hanya angin sore yang lewat???dia kan cuma batu??cuma tanah??
Berdua, kita merupakan contoh sempurna dari apa yang dibilang orang : SIAPA MENABUR ANGIN DIA MENUAI BADAI... Ego yang besar, keras kepala dan sikap kesulungan yang arogan tipikal anak pertama cukup jauh melempar kita untuk sekedar rendah hati dan mau belajar dari tiap pengalaman kita...

Di jalan yang membelah jantung kota ini, baru aku tahu...kita terlalu congkak menertawakan keping pengalaman itu..kita terlalu sombong mengejek pengalaman2 orang,yang seharusnya juga adalah duplikat pengalaman kita...
Di aspal yang menghubungkan Tugu dan Keraton Ngayogyakarto ini, aku coba berhitung dengan masa lalu...berspekulasi dengan tiap hentakan waktu di masa-masa itu...dan aku mulai paham...
Mungkin kita terlalu dini menilai pribadi masing-masing...dan saling menyembunyikan bagian terburuk kita sambil menertawakan pengalaman2 itu..Mungkin memang karena berusaha terlihat baik untuk yang lain, yang membuat kita makin rapuh?? Ragu aku 'tuk menjawabnya...takut mendahuluiNya, Sang Pemegang Kunci Jawaban...
Atau mungkin karena masing-masing kita, gagal membangun kebanggaan diri bagi orang tua dan keluarga kita??takut aku menjawabnya...takut tak etis dan dianggap tak ada etika jika mengumbarnya di ruang publik...
Seandainya kita belajar dari batu dan tanah tadi...dan bukan sekedar meremehkannya...
Memang pengalaman itu batu...yang menjadi alas bangunan apapun sejak nenek-moyang kita belajar ber-arsitek...yang menjadi penopang satu bangunan utuh yang kita sebut RUMAH,pada jenis topografi tanah apapun...
Memang pengalaman itu tanah...yang menjadi tempat berpijak tiap ciptaanNya di kolong langit ini..yang mjd tempat kita belajar berjalan pada liku jalan hidup ini...

Di bawah kecupan rinai tipis sang hujan..aku tetap masih menghormati penggalan hari-hari itu...saat aku juga pernah kau kuatkan...saat aku terobati setelah pernah "dijatuhkan dengan keras oleh sang nasib"...aku tetap menaruh respek yang dalam pada tiap usahamu membuatku bangkit dari tiap cemooh lidah tak bertulang itu...
Bergidik aku, jika kubayangkan betapa banyak pengorbanan yang kau buat pada tertatihnya langkah awalku dulu...dalam mata yang masih terpejam dan hati yang masih terpekur...aku cuma pelan berbisik seandainya dari dulu kita belajar dari pengalaman buruk yang kita anggap batu, tanah dan angin sore yang sekedar lewat itu...mungkin tidak ada ego yang terlalu besar, atau keras kepala yang tidak pada tempatnya, atau formalitas kaku atas nama "jaga perasaan" itu...

Awan cummulus tampak mulai merona menyembunyikan sang pagi...satu-dua tetes embun di pinggir trotoar kumuh, menyadarkanku jika hari baru akan segara berputar lagi di atas atmosfir kota Pelajar ini...sudahlah ini hanya ceritaku pada sang pagi...pada sang embun...pada sang mentari...biar kutitipkan saja pada ujung jalan ini..mungkin sakralnya keraton Yogya bisa menghantar cerita ini kepadamu..dan biar kita makin belajar...belajar dari pengalaman seburuk apa pun itu, dan bukan lagi menertawakannya...
Kusimpan saja di ujung jalan (itu)....