MENCARIMU
(Catatan
lepas dari bukit Padadita)
Sang waktu
menyeret pergi senja lalu seperti biasa dengan terseok, dihantarnya dewi malam
ke penghujung hari. Padahal bagiku senja masih terlalu dini untuk dirampas
dariku. Serangkaian ritual eksplorasi menikmati senja, baru saja kumulai. Apalagi
kalau bukan dengan rokok dan segelas kopi kental pahit. Sayup suara alat musik
tradisional khas alam Sabana ini, mulai mencoba mengikis diamnya malam. Seolah
tetabuhan itu sedang berusaha menjadi pelukis yang baik atas kehidupan mistis
masyarakatnya. Nun di punggung bukit, kerbau serta hewan yang diternakkan di
padang, mulai merengek minta dikandangkan. Sudah sejak tadi burung-burung
bertengkar berebutan mencari tempat berteduh. Kukira sebentar lagi ritus
kehidupan segera berhenti di atas atmosfir negeri Sandlewood ini.
Di bawah
neon 40 watt, aku masih terpekur dengan refleksi bulanan yang harus dikumpulkan
lusa nanti. Sudah dua bungkus rokok kuhabiskan sekedar untuk mengusir kantuk
(alih-alih untuk mencari ide). Dan seperti setiap satu batang rokok yang habis
kuisap, seperti itu pulalah kumpulan ide yang bermain di kepalaku. Habis-hilang,
entah kemana. Datangnya ide menjadi secepat dia pergi saat aku berusaha untuk mengembangkannya.
Aku bingung, bahasa apalagi yang harus kutuangkan di atas kertas bergaris ini. Pelbagai
kalimat klise dengan sedikit bunga kata sudah kubongkar dari semua
perbendaharaan kataku. Beberapa bumbu kisah kutulis di dalamnya, untuk sekedar
membungkus kemunafikanku yang gagal menemukan esensi sejati dari menulis
renungan untuk kebutuhan banyak orang. Apalagi renungan ini akan dibawakan
dalam salah satu ritus religi agamaku. Takut pula aku membayangkan jika aku
hanya melakukan kesalahan yang sama dari para tetua (baca:pemuka) agamaku, yang
kadang menulis renungan asal-asalan dan yang penting jadi. Tanpa ada muatan
pengolahan rasa dan pengalaman serta niat yang luhur untuk menghantar para
pemeluk agama kami pada perenungan diri demi menjadi pribadi yang lebih baik
lagi. Tapi, apa yang kutakutkan itu, sebenarnya sedang pula aku lakukan. Aku menulis
renungan dengan buru-buru hanya demi mengejar deadline: penampilan khotbah renungan
pertama kaliku sejak aku diterima pada (biara) konggregasi yang berpredikat
sebagai “pengkhotbah” ini. Soal “menyeret orang lain dan menenggelamkannya pada
kolam keyakinanku” bukan hal yang sulit bagiku. Namun, kali ini aku harus
mengakui kalau aku gagal dalam membuat berbagai narasi dan argumentasi yang bisa
mendukung isi renunganku ini.
Aku sedang
kalah oleh jiwaku sendiri. Jiwaku bahkan lebih parah lagi…Ia sedang kalah
dengan gelisahku. Kegelisahan yang aneh, yang sudah bertahun-tahun aku lupakan
caranya untuk mengatasinya. Lupa, gara-gara urusan afeksi dan perasaan ‘istimewa’
yang disebut CINTA itu, pada jalan yang sedang aku tempuh ini, ia sungguh
menjadi tabu-haram. Siapapun yang hendak menjadi Paderi alias Pastur, haruslah
mampu menghilangkan keinginan pada ketertarikan dengan lawan jenis dan
mengolahnya menjadi pelayanan yang sakral, hanya pada Tuhan dan umatNya.
Aku sedang gagal menyeimbangkan “ratio” dan “emotio”-ku. Lagi-lagi,
aku merobek refleksi kesekian belas yang setengah jadi itu dan mencampakkannya
begitu saja ke lantai. Tentu saja sambil membuka koleksi sumpah serapahku dari
bahasa nenek moyangku nun jauh di kampong sana, sampai makian terkini yang
katanya lebih ‘funky dan gaul’ itu.
“Sial..!!”,
umpatku dalam hati. Untuk kali yang tak terbilang lagi, bayangan gadis itu
muncul. Sepertinya alam bawah sadarku – atau mungkin hatiku – tak pernah
bosan-bosannya menyiksaku. Aktivitas harianku pun mulai terganggu. Tak jarang
aku ditegur paderi pembimbingku, bahwa aku sering melamun dan kadang tersenyum
sendiri. Bahkan, Rinto, temanku pernah sekali waktu berkata :
“Kawan,
jangan-jangan kau kena le’u-le’u (baca:
guna-guna). Aku punya kenalan seorang pendoa kharismatik. Mungkin beliau bisa
membantumu.”
Dalam hati
aku hanya bisa geli mendengar kata-kata sahabat baikku itu.
“Yah, aku butuh pendoa untuk bisa membuat dia
hadir disini di depan mataku…”,aku membatin.
Sudah sakit dunia ini. Semua hal yang
tidak mampu dijelaskan dengan akal (yang sehat tentunya), malah ‘diusahakan’
untuk dijawab menggunakan jawaban-jawaban dari dunia meta-fisis. Mitos dan hal-hal
berbau mistik lainnya menjadi laku keras dan diyakini sebagai kunci jawaban
utama dari semua kejadian yang (menurut orang di kampungku) tak sampai ke ranah
penalaran mereka. Maka, jadilah aku juga menjadi salah satu korbannya. Rinto,
seorang pemuda cerdas yang seperti aku juga sedang mengecap dunia filsafat dan
berbagai alam pemikiran dalam silabus-silabus ber-font 10 itu pada pengapnya perpustakaan biara, namun lihatlah caranya
berpikir dan menanggapi segala sesuatu di luar konteks rasionalitas: dengan
nista dan keji dia menganggap aku terkena mantra guna-guna…dari seorang gadis
yang sedang kupuja pula!!!
“Mana mungkin gadis sepolos dan
sebaik dia tega berbuat seperti itu? Pantaskah aku menuduhnya sekeji itu? “, tanya
batinku seolah sedang mengadiliku.
Memang ini bukan kali pertama aku
dipeluk perasaab aneh seperti ini. Namun, tak selamanya gadis pertama adalah
cinta pertama, bukan? Aku pernah melewatkan saat-saat pengolahan yang mudah
bersama Lidya, Waty, Ina dan Ike. Bagiku, keempatnya adalah bunga-bunga segar dalam
perjalanan ‘panggilan’ yang (kukira paling) suci ini: mengabdi padaNya dan
umatNya. Progress yang harus kulewati terasa lebih jauh lebih mudah dengan
keempat gadis tadi ketimbang dengan ‘wanita
besi’ ini. Hehehehe…yah, kusebut ‘wanita besi’ karena baru dia yang membuat
progress dan pengolahan rasaku kali ini
kacau balau. Rusak total. Pemahaman-pemahaman baru yang kutemui saat mulai
mengolah ‘dunia rasaku’ ketika bersua dengannya, sukses menjadikan ia wanita limited
edition dalam hidupku. Dengan keempat gadis terdahulu, selalu saja ada turning point yang membuatku tak sanggup
mengkhianati keputusan dan pilihanku saat ini. Semoga turning point itulah yang akan membuka pikiranku (lagi) dan
menajamkan mata hatiku (kelak), agar mampu melihat kembali dan menemukan
jalanku yang sebenarnya; yang seharusnya kutempuh.
Jadi, jelaslah sudah bagiku, cinta
hanyalah sebuah permainan untuk mendapatkan sebuah titik balik alias turning point tadi sebagai pembaharu
hidup dan me-refresh seluruh
rencanaku menjalani hidup ini. Doktrin ini, terpelihara dengan baik di bawah
bayangan trauma cinta masa akil baliq. Dan, sekarang aku sedang menanti
kedatangan dewa penyelamatku itu: Turning
Point tadi, yang tetap kuyakini akan melepaskanku dari penjara bayangan
gadis itu. Pikiranku memperkirakan sebentar lagi titik balik itu akan segera dating,
tapi hati kecilku berbisik: “Kau salah besar, Bung!!”
*******
Santy, itu
namanya. Bukan baru saja kukenal gadis ini. Aku mengetahuinya sejak kami kecil.
Meskipun, aku tak begitu yakin apakah dia masih mengingatku saat kami di usia
TK dan SD itu. Kebetulan, ibunya adalah teman baik ibuku kala bersekolah di
Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dulu. Dan, kebetulan lagi, keluarga kami sering
bertemu di acara-acara maupun pesta keluarga Maumere di kotaku tercinta:
Kupang. Maklum, ibunya berasal dari tempat yang sama dengan ayah dan ibuku
dilahirkan: Maumere, sebuah kota pelabuhan di daratan Flores. Bertahun-tahun,
tak pernah melihatnya lagi. Hidup berjalan. Waktu tersaruk mengejar hidup dari
belakang. Hampir tak ada yang tersisa lagi , mengenai ingatan tentang sosok
gadis ini. Dan, memang tak ada pikiran sama sekali tentang gadis ini. Satu-satunya
yang tersisa adalah ingatan mengenai perangainya di masa kecil yang pecicilan
kesana-kemari, ribut, bahkan sering kurang ajar dan pandai berkelahi dengan
anak pria seumurannya (bahkan yang lebih tua pun dihajarnya). Itu saja. Tak ada
yang istimewa. Tak ada yang begitu special.
Sampai suatu ketika, tepatnya dua
tahun yang lalu, saat aku berlibur dari sekolah asramaku dan pulang ke Kupang. Dalam
suatu acara keluarga waktu itu, hadir pula keluarganya. Bahkan oknum ini pun
ada. Tapi, hey…ada yang berubah pada dirinya. Mestinya ada sesuatu yang
istimewa saat aku melihatnya kali ini. Entah apa itu aku tak tahu dan tak mampu
menjelaskannya. Inner beauty-nya,
sukses memberikanku pandangan baru yang amat berlawanan dengan pandangan umum
tentang gadis-gadis zaman sekarang, yang katanya lebih ‘gaul’, walau entahkah
saat itu aku tengah dibutakan (sebuah) pandangan pertama. Bagiku, kali ini
merupakan penglihatan (kalau tak dapat dibilang pertemuan, sebab kami berdiri
jauh-jauh dan tanpa ada komunikasi verbal apapun) yang istimewa buatku.
“Tapi mana mungkin, dia kan hanya
seorang gadis SMP…seorang anak bau kencur…mana mungkin aku suka apalagi jatuh
cinta padanya”, lagi-lagi batinku berusaha menjadi sang pengadil, yang berusaha
menjaga keseimbangan antara area ‘rasa’ dan ‘nalar’-ku.
Jujur saja, bagiku ia berubah. Sangat
jauh berubah. Ia hadir dalam kesahajaan yang anggun dan ketegasan yang pasti,
itu kesan pertamaku yang kutangkap dari wajahnya yang agak polos dan lugu itu. Dia
sunggguh menjadi cermin dari sebentuk jiwa yang lembut namun kokoh. Sungguh tipikal
pencitraan figur yang selama ini kukira hanya ada di komik-komik Jepang itu
atau di sekumpulan novel asing yang sering kutemukan tak terjamah di sudut
gelap perpustakaan seminariku.
Dan, mudah ditebak bukan. Semenjak itu
aku memang mulai sering memikirkannya. Celakanya, baru-baru ini sebelum datang
ke biara ini, aku sempat melihat lagi foto-foto masa kecilku di rumah. Dan…hey!!!
Ada foto dia disana juga. Hhmm…entah dimana gadis itu sekarang. Gelisahku
semakin menyiksa. Dan malam makin pekat di batas hari. Pekat dan penuh pula
rasa dan nalarku.
*********
“Aku mencintaimu…kurasa…”, kataku hampir
tanpa ketegasan. Mungkin, karena takut terhadap kenyataan dan komitmen atas
jalanku sekarang.
“Mungkinkah itu? Sementara kau dan
aku memiliki dunia yang amat jauh berbeda. Perjalananmu yang sekarang saja
membangun tembok yang tinggi dan besar. Kupikir saat ini kita berdiri di jalan
dan di dunia yang berbeda…”, datar jawabnya.
“Mengapa tidak? Bukankah bunga dengan
beragam jenis bila disatukan dalam sebuah vas akan tampak lebih indah?”,
lanjutku dengan sedikit memaniskan kata menggunakan analogi usang ini.
Mungkin bisa meyakinkannya, yah…paling tidak menggoyahkan pendapat ‘wanita
besi’ ini. Aku tahu ia bermaksud mengingatkanku akan pilihan dan perjalanan
hidupku saat ini yang ingin menjadi pastur itu.
“Kamu tahu bunga Edelweiss?? Ia bisa
tumbuh di atas batu karang, karena alam memberinya tempat dan kesempatan. Dan lihatlah,
ia menjadi bunga yang sungguh indah dan langka. Beri aku kesempatan dan akan
kubuktikan bahwa cinta yang sejati dapat tumbuh di atas perbedaan-perbedaan
pilihan, sekeras apapun pilihan itu…”, lagi-lagi jurus analogi yang
kulancarkan.
“Kena kau!!”, kataku dalam hati. Aku sudah
bisa mencium bau kemenangan, ketika akhirnya dia menyambung perkataanku dengan
kelembutannya yang tak dibuat-buat:
“Kesempatan dan kemauan haruslah
searah berjalan. Di saat yang satu berjalan yang lain menopangnya. Di saat
kesempatan untuk mencintai ada, kemauan untuk mencintai pun harus membayanginya
dari belakang…Aku punya kesempatan buatmu, tapi aku ragu pada kemauanmu”.
Sejenak darahku terasa berhenti
beredar. Harus kuakui aku terkejut. Dan, aku tahu pasti seperti apa wajah
konyolku saat itu.
“Percayakan saja pada waktu nona!! Dan,
kau akan tahu betapa aku mencintaimu!”, tangkisku sia-sia. Aku merasa seperti
serdadu tolol yang kehabisan peluru tapi masih berusaha menembak musuh.
Tiba-tiba tawanya pun pecah. Hhmm…Manis
sekali. Dari balik senyumnya itu, ia berkata kepadaku, “Kurasa…aku juga
mencintaimu!”. Senyum itulah yang membuatku yakin, bahwa aku ‘lulus’ ujian itu.
Hujan di luar sudah lama reda. Matahari pagi yang seharusnya sudah muncul dari
tadi, malu-malu keluar dari balik awan hitam. Lega rasanya. Namun, lamunanku ini
dihentikan paksa oleh suara lonceng biara yang memekakkan telinga. Sekarang saatnya
ibadat pagi. Mungkin lain kali saja baru kulanjutkan menikmati ‘fatamorgana’ku
tadi. Ini seperti menjadi obat atas kegelisahanku mencari oase pemuasan akan
sosok Santi. Time to go back to my real
life!!! Masih ada ibadat pagi, misa pagi, sarapan pagi bersama, kuliah
komunitas, kerja dan serangkaian aktivitas monoton-membosankan yang harus
kulalui hari ini. Mungkin di antara aktivitas menjemukan hari ini, aku akan
melanjutkan menikmati ‘fatamorgana’ku lagi: Santy!!
************
Laut di kaki bukit ini masih seperti
biasanya, berbaring angkuh sampai di batas horizon. Seakan dengan pongahnya ia
menunjukkan kekuatannya menyimpan Santy-ku di ujungnya yang lain. Waktu terus
menyeret kehidupan sambil melempar siang dan malam ke dalam kehidupan dunia. Segala
sesuatu di sekitarku bergerak seperti biasanya, termasuk juga kecambah di
lembah, yang kini disulap alam menjadi barisan padat-sejuk lamtoro gung. Dan aku?
Aku akhirnya kembali menemukan diriku sedang tersaruk melangkah mengejar sebuah
“titik balik” yang tak pernah pasti datangnya. Aku juga menemukan satu
kenyataan (pahit?) bahwa lembaran indah yang sering kuimpikan di senggang
waktuku untuk bersama Santy perlahan mulai kosong. Tak tertulis apapun jadinya.
Jauh punguk dari bulan, rupanya. Entah dimana gadis itu sekarang. Tak pernah
lagi aku tahu kabarnya. Rupanya pameo klasik “jauh di mata, dekat di hati”
gagal membuktikan kesakralannya sebagai anak dari pengalaman. Bahkan, credo filsuf Yunani, Plato, bahwa cinta
adalah keabadian (tak bertepi), takkan meruntuhkan tembok keyakinanku saat ini
bahwa kami takkan pernah bertemu lagi.
Aku tahu, bisa jadi aku adalah korban
sebuah permainan. Permainan antara hati dan otak, antara logika dan rasa,
antara apa yang aku rasa dan apa yang aku pikirkan. Toh, kalau sampai sejauh
ini aku masih mencintai Santy, itu hanya karena sebuah keyakinan yang terpatri
di dada bahwa Santy adalah gadis sempurna yang selalu member kesegaran pada
jalan pilihanku sekarang: menjadi biarawan berkaul tak kawin, sederhana dan
taat pada pimpinan. Membayangkan Santy sebentar saja, seolah membuat mentari
pagi dua kali lebih hangat dari biasanya.
Lonceng biara lagi-lagi bergema. Angin
sore tak tergesa berlari di antara pohon pinus dan lamtoro di lembah sana. Senjaku
sedang indah dan terlalu sia-sia untuk tak dinikmati. Semburat lembayung tipis
berpadu nyala mentari sore yang temaram lembut, membuatku terpekur dalam mata
terpejam. Mungkin ini namanya ‘sindrom senja’, karena ajaibnya di senja yang indah ini sering raga
tak ingin bergerak, inginnya waktu berhenti sedikit lebih lama agar kureguk
kepuasan menikmati senja ini. Dan, dengan kepastian yang mantap, satu demi satu
kata kurangkai untuk
“Engkaulah getar pertama yang
meruntuhkan gerbang tak berujungku.
Mengenal
hidup.
Engkaulah tetes embun pertama yang
menyesatkan dahagaku dalam cinta,
Tak
bermuara.
Engkaulah matahari Firdausku yang menyinari
kata pertama di cakrawala aksara(ku)
Engkau
hadir dalam ketidak-mengertian. Gerakmu tiada pasti.
Namun
aku terus disini (dalam jalan Tuhanku)
Mencintaimu.
Entah
kenapa….”
Paragraf pembuka itu—yang sengaja kupinjam
dari novel Supernova, karya Dewi Lestari—kutulis penuh perasaan, sambil terus
kupandangi wajah Bundaku dan jubah putihku pada gantungan di sudut kamar.
Senja makin merah di kaki langit.
Dan, aku pun masih mencintai panggilan hidupku menjadi pastur…. Maaf, mungkin
juga aku masih mencintai Santy. Selamat sore!!
Buatmu:
yang kucari bayangmu pada seribu
malam,
yang kucari senyummu dengan membiarkan
jiwa terbunuh rasa
yang kucari sejatimu di ujung senja
bukit ini
yang kucari dirimu di tajam pena
menari
buatmu, Santy-ku
Waingapu, Valentine Day 2002