KUSIMPAN SAJA DI SIMPANG JALAN (ITU)...
Sering, berdua kita tertawakan badai yang kerap datang...
bahkan kita mengejek datang dan perginya masalah di antara kita..
Mungkin,
karena muda dan naif, tiap keping pengalaman (yg katanya adalah guru
plg sakti) kita anggap sebagai angin sore yang lewat dan karenanya dia
tak berarti apa-apa bagi kita.
Rasio kita yang (sok) akademis hanya
mampu menerjemahkannya sebagai batu: Yang diam, keras, dingin dan tak
berguna pada panjangnya jalan kita yang masih satu-dua depa ini...
Akal
kita yang mengecap bangku pendidikan tinggi hanya mampu mencerna
pengalaman sebagai tanah : Yang kotor, banyak debu, tak berarti apa2...
Di batas nadir jalan kita ini, baru aku tersadar...(meski terlambat)
bahwa
kita, karena terpengaruh gaya berpikir simpel-muda-gaul-easy going yang
bilang : "HADAPI SMUA MASALAH DENGAN SENYUM, TERTAWAKAN SEMUA HAL BURUK
YANG PERNAH KAU PERBUAT..DAN SMUANYA AKAN BAIK-BAIK SAJA...", membuat
kita tak pernah belajar apa-apa dari tiap masalah dan kejadian buruk
itu...
bahwa kita, saking menganggap diri dewasa (seperti konon bnyk
org dewasa) merasa telah bijak dengan cukup melupakan saja tiap masalah
yang datang dan tak usah berguru padanya...dia kan hanya angin sore yang
lewat???dia kan cuma batu??cuma tanah??
Berdua, kita merupakan
contoh sempurna dari apa yang dibilang orang : SIAPA MENABUR ANGIN DIA
MENUAI BADAI... Ego yang besar, keras kepala dan sikap kesulungan yang
arogan tipikal anak pertama cukup jauh melempar kita untuk sekedar
rendah hati dan mau belajar dari tiap pengalaman kita...
Di jalan
yang membelah jantung kota ini, baru aku tahu...kita terlalu congkak
menertawakan keping pengalaman itu..kita terlalu sombong mengejek
pengalaman2 orang,yang seharusnya juga adalah duplikat pengalaman
kita...
Di aspal yang menghubungkan Tugu dan Keraton Ngayogyakarto
ini, aku coba berhitung dengan masa lalu...berspekulasi dengan tiap
hentakan waktu di masa-masa itu...dan aku mulai paham...
Mungkin kita
terlalu dini menilai pribadi masing-masing...dan saling menyembunyikan
bagian terburuk kita sambil menertawakan pengalaman2 itu..Mungkin memang
karena berusaha terlihat baik untuk yang lain, yang membuat kita makin
rapuh?? Ragu aku 'tuk menjawabnya...takut mendahuluiNya, Sang Pemegang
Kunci Jawaban...
Atau mungkin karena masing-masing kita, gagal
membangun kebanggaan diri bagi orang tua dan keluarga kita??takut aku
menjawabnya...takut tak etis dan dianggap tak ada etika jika
mengumbarnya di ruang publik...
Seandainya kita belajar dari batu dan tanah tadi...dan bukan sekedar meremehkannya...
Memang
pengalaman itu batu...yang menjadi alas bangunan apapun sejak
nenek-moyang kita belajar ber-arsitek...yang menjadi penopang satu
bangunan utuh yang kita sebut RUMAH,pada jenis topografi tanah apapun...
Memang
pengalaman itu tanah...yang menjadi tempat berpijak tiap ciptaanNya di
kolong langit ini..yang mjd tempat kita belajar berjalan pada liku jalan
hidup ini...
Di bawah kecupan rinai tipis sang hujan..aku tetap
masih menghormati penggalan hari-hari itu...saat aku juga pernah kau
kuatkan...saat aku terobati setelah pernah "dijatuhkan dengan keras oleh
sang nasib"...aku tetap menaruh respek yang dalam pada tiap usahamu
membuatku bangkit dari tiap cemooh lidah tak bertulang itu...
Bergidik
aku, jika kubayangkan betapa banyak pengorbanan yang kau buat pada
tertatihnya langkah awalku dulu...dalam mata yang masih terpejam dan
hati yang masih terpekur...aku cuma pelan berbisik seandainya dari dulu
kita belajar dari pengalaman buruk yang kita anggap batu, tanah dan
angin sore yang sekedar lewat itu...mungkin tidak ada ego yang terlalu
besar, atau keras kepala yang tidak pada tempatnya, atau formalitas kaku
atas nama "jaga perasaan" itu...
Awan cummulus tampak mulai
merona menyembunyikan sang pagi...satu-dua tetes embun di pinggir
trotoar kumuh, menyadarkanku jika hari baru akan segara berputar lagi di
atas atmosfir kota Pelajar ini...sudahlah ini hanya ceritaku pada sang
pagi...pada sang embun...pada sang mentari...biar kutitipkan saja pada
ujung jalan ini..mungkin sakralnya keraton Yogya bisa menghantar cerita
ini kepadamu..dan biar kita makin belajar...belajar dari pengalaman
seburuk apa pun itu, dan bukan lagi menertawakannya...
Kusimpan saja di ujung jalan (itu)....
No comments:
Post a Comment