Thursday, March 1, 2012

KUSIMPAN SAJA DI SIMPANG JALAN (ITU)...

KUSIMPAN SAJA DI SIMPANG JALAN (ITU)...


Sering, berdua kita tertawakan badai yang kerap datang...
bahkan kita mengejek datang dan perginya masalah di antara kita..
Mungkin, karena muda dan naif, tiap keping pengalaman (yg katanya adalah guru plg sakti) kita anggap sebagai angin sore yang lewat dan karenanya dia tak berarti apa-apa bagi kita.
Rasio kita yang (sok) akademis hanya mampu menerjemahkannya sebagai batu: Yang diam, keras, dingin dan tak berguna pada panjangnya jalan kita yang masih satu-dua depa ini...
Akal kita yang mengecap bangku pendidikan tinggi hanya mampu mencerna pengalaman sebagai tanah : Yang kotor, banyak debu, tak berarti apa2...

Di batas nadir jalan kita ini, baru aku tersadar...(meski terlambat)
bahwa kita, karena terpengaruh gaya berpikir simpel-muda-gaul-easy going yang bilang : "HADAPI SMUA MASALAH DENGAN SENYUM, TERTAWAKAN SEMUA HAL BURUK YANG PERNAH KAU PERBUAT..DAN SMUANYA AKAN BAIK-BAIK SAJA...", membuat kita tak pernah belajar apa-apa dari tiap masalah dan kejadian buruk itu...
bahwa kita, saking menganggap diri dewasa (seperti konon bnyk org dewasa) merasa telah bijak dengan cukup melupakan saja tiap masalah yang datang dan tak usah berguru padanya...dia kan hanya angin sore yang lewat???dia kan cuma batu??cuma tanah??
Berdua, kita merupakan contoh sempurna dari apa yang dibilang orang : SIAPA MENABUR ANGIN DIA MENUAI BADAI... Ego yang besar, keras kepala dan sikap kesulungan yang arogan tipikal anak pertama cukup jauh melempar kita untuk sekedar rendah hati dan mau belajar dari tiap pengalaman kita...

Di jalan yang membelah jantung kota ini, baru aku tahu...kita terlalu congkak menertawakan keping pengalaman itu..kita terlalu sombong mengejek pengalaman2 orang,yang seharusnya juga adalah duplikat pengalaman kita...
Di aspal yang menghubungkan Tugu dan Keraton Ngayogyakarto ini, aku coba berhitung dengan masa lalu...berspekulasi dengan tiap hentakan waktu di masa-masa itu...dan aku mulai paham...
Mungkin kita terlalu dini menilai pribadi masing-masing...dan saling menyembunyikan bagian terburuk kita sambil menertawakan pengalaman2 itu..Mungkin memang karena berusaha terlihat baik untuk yang lain, yang membuat kita makin rapuh?? Ragu aku 'tuk menjawabnya...takut mendahuluiNya, Sang Pemegang Kunci Jawaban...
Atau mungkin karena masing-masing kita, gagal membangun kebanggaan diri bagi orang tua dan keluarga kita??takut aku menjawabnya...takut tak etis dan dianggap tak ada etika jika mengumbarnya di ruang publik...
Seandainya kita belajar dari batu dan tanah tadi...dan bukan sekedar meremehkannya...
Memang pengalaman itu batu...yang menjadi alas bangunan apapun sejak nenek-moyang kita belajar ber-arsitek...yang menjadi penopang satu bangunan utuh yang kita sebut RUMAH,pada jenis topografi tanah apapun...
Memang pengalaman itu tanah...yang menjadi tempat berpijak tiap ciptaanNya di kolong langit ini..yang mjd tempat kita belajar berjalan pada liku jalan hidup ini...

Di bawah kecupan rinai tipis sang hujan..aku tetap masih menghormati penggalan hari-hari itu...saat aku juga pernah kau kuatkan...saat aku terobati setelah pernah "dijatuhkan dengan keras oleh sang nasib"...aku tetap menaruh respek yang dalam pada tiap usahamu membuatku bangkit dari tiap cemooh lidah tak bertulang itu...
Bergidik aku, jika kubayangkan betapa banyak pengorbanan yang kau buat pada tertatihnya langkah awalku dulu...dalam mata yang masih terpejam dan hati yang masih terpekur...aku cuma pelan berbisik seandainya dari dulu kita belajar dari pengalaman buruk yang kita anggap batu, tanah dan angin sore yang sekedar lewat itu...mungkin tidak ada ego yang terlalu besar, atau keras kepala yang tidak pada tempatnya, atau formalitas kaku atas nama "jaga perasaan" itu...

Awan cummulus tampak mulai merona menyembunyikan sang pagi...satu-dua tetes embun di pinggir trotoar kumuh, menyadarkanku jika hari baru akan segara berputar lagi di atas atmosfir kota Pelajar ini...sudahlah ini hanya ceritaku pada sang pagi...pada sang embun...pada sang mentari...biar kutitipkan saja pada ujung jalan ini..mungkin sakralnya keraton Yogya bisa menghantar cerita ini kepadamu..dan biar kita makin belajar...belajar dari pengalaman seburuk apa pun itu, dan bukan lagi menertawakannya...
Kusimpan saja di ujung jalan (itu)....

No comments:

Post a Comment