Satu pagi di Tugu Yogya
Sebungkus
sudah…gumamku dalam hati. Baru saja kubuang puntung rokok terakhirku.
Mungkin waktu juga belum sampai di angka 4 pagi, sebab lirih di balik
bising kendaraan, adzan subuh belum berhenti berkumandang. Kucoba
membuang jenuh dengan menghitung barisan semut pekerja yang sibuk
merayap tak jauh dari kakiku mencari serpihan makanan, seolah tak mau
kalah dengan para simbok pemikul yang juga sibuk menawari jasa
pikulan rentanya dengan lembaran lusuh seribuan di pasar Kranggan ini,
sebuah pasar di jantung kota yang tak jauh dari salah satu ikon kota
pelajar ini: Tugu! Dengan segera menghitung barisan serdadu semut itu,
menjadi aktivitas yang tak menarik lagi. Maka, habislah kreativitas
mengusir jenuhnya nongkrong kali ini. Sebenarnya, tempat ini bukan the right spot
untuk sekedar duduk dan terpekur. Hingar bingar para penjual sayur
menawarkan dagangan pada para pembeli, beradu dengan bising kendaraan
pengangkut pasar, menjadi sebuah paduan suara yang sangat jauh dari kata
harmoni yang menyejukan hati. Capek, mungkin itu yang bisa mengamini
alasan mengapa aku memilih tempat ini. Setelah berjam-jam mengelilingi
jalan dan gang di kota ini dalam kebingungan, akhirnya penat juga badan
ini, maka berlabuhlah aku di trotoar persis di depan pasar ini.
Bingung
aku pada diriku jika bertanya (sekali lagi pada diri sendiri) apa
sebenarnya alasanku memacu motor selama berjam-jam mengitari kota Ngayogyakarto
ini. Mencari wangsit? Mungkin lebih murah dan mudah mencari wangsit di
pengapnya bilik-bilik warung internet yang mendadak laris di kota ini
(dengan bermain POKER mungkin?).
Mencari suasana baru? Tidak
mungkin, karena sudah hampir 8 tahun mengeram di kota ini, aku telah
sering melewati jalan-jalan itu. Tak ada yang baru sama sekali jalannya.
Mungkin yang baru hanyalah, makin bertambah saja jumlah pemulung yang
berlomba mencari sisa sampah semalam yang masih bisa dihargai seribu-dua
ribu.
Mengusir gamangnya hati? Tidak juga. Karena aku tahu tempat
andalanku mencari ketenangan hati, sambil mengeksplorasi spirit mudaku:
kamarku sendiri.
Mencari daya tarik kota ini? Sudah pasti tidak,
karena aku cukup tahu, kota ini telah kehilangan daya tariknya; buatku
paling tidak sejak wanita yang kusebut ‘pacar’ itu meninggalkan kota
ini. Logika dan segenap pertimbangan akal sehatku tak mampu mengimbangi
rentetan pertanyaan itu lewat jawabannya yang presisi. Well, apapun itu, yang penting paling
kurang dengan berjalan tak tentu arah ini, memberikan ekstra udara
segar bagi dadaku yang beberapa bulan ini sering sesak saat malam
datang.
Sesak karena masalah yang tak kunjung berhenti
bersilahturahmi pada diriku. Sesak karena tak mampu menemukan jawab atas
seribu tanya tentang esensi atas eksistensi hidupku. Sesak karena sudah
lama pula aku menjadikan Tuhan itu sebuah kata, bukan ruh/roh; entah mulai kapan, aku percaya pada teori Big Bang “Supernova” serta berbagai omong kosong teori alam semesta dan bukannya pada Sang Khalik sebagai Causa Prima kehidupan ini. Atau
bisa jadi juga sesak karena orientasi hidup yang juga sudah lama hilang
ditelan ambisi menjadi kompetitor hidup yang selalu menang, dengan
tidak mentolerir kekalahan/kegagalan. Mungkin juga sesak karena akal
mulai diracun gas sianida bernama: Harta, dan jadilah aku “Soeharto”
kecil yang mulai rakus melihat lembaran rupiah.
Lama aku terpekur
kosong di trotoar setengah basah itu. Mencoba meyakinkan hati, jika pada
titik ini toh aku masih hidup juga di dunia ini. Mencoba
menyederhanakan hati dan pikiran bahwa tidak ada keputusan yang harus
disesali di tiap pagi menyambut hari baru. Yah…sekedar membulatkan tekad
bahwa hidupku masih patut untuk dijalani. Dalam pejaman mata sesaat,
penggalan kata bijak pria yang dari kecil sampai sekarang kusebut AYAH
itu terngiang kembali: “…seorang pria dihargai bukan karena ia berhasil
menyelesaikan apa yang ia mulai, tapi karena kerendahan hati dan usaha
mengalahkan diri sendiri dalam proses “menyelesaikan” tadi, sebab pria
itu selalu to much pride, terlalu mengagungkan kebanggaan diri
serta ego dan lupa belajar pada kesederhanaan dan kerendahan hati dalam
tiap pencapaiannya…”. Di bawah temaram lampu jalan, aku mencoba
mengekstrak penggalan ucapan tadi. Pada tipisnya gerimis yang melempar
angin dingin ke sumsum tulang, perlahan aku paham maksud ucapan anak
petani berpendidikan S1 Pertanian itu. Mungkin sudah terlalu lama, aku
lelap pada mimpi-mimpi tentang ego dan kebanggaan diri. Baru sadar aku
(mungkin meski terlambat?) bahwa tak terhitung waktu terbuang,
kuhabiskan untuk merayakan rasa merdeka tinggal jauh di luar rumah.
Sekian banyak tindakan sia-sia kubuat sekedar melampiaskan kekesalan
pada hidup yang terlanjur kuanggap tak ada tujuan ini. Mungkin aku lupa
belajar pada kokohnya dua pohon beringin tua yang berdiri bertahun-tahun
di depan alun-alun selatan keraton Yogya, bahwa kesederhanaan itu bisa
berarti sedikit bicara tapi tegas berdiri pada prinsip. Lupa juga aku
berguru pada bijaknya tembok keraton, yang mengartikan kesederhanaan
bukan pada keinginan membentengi ide-ide sendiri dengan congkak, tapi
juga pada kehendak membuka diri pada orang lain dan membuat kita menjadi
tembok nyaman tempat orang lain berlindung. Mungkin pada karang tepian
pantai Parangtritis yang digempur ombak, aku bisa belajar menerima
hempasan masalah yang datang sekeras apapun dan mengembalikannya dengan
tenang kepada SANG PEMBERI. Mungkin aku terlalu lama tinggal dalam
“kenyamanan” berbuat salah, tanpa ada tanggung jawab pada “otoritas”
tertentu?. Mungkinkah juga kesombongan komunal ke-Kupang-an aku (kalau
tak dapat dipakai kata “kami”), membiasakan aku untuk juga menghilangkan
bagian kompromistik, tepa selira dan rendah hati dengan
komunitas lain saat ada konflik/gesekan, dan membiarkan aku terjebak
pada solidaritas komunal yang palsu berdasar romantisme sejarah di kota
ini, bahwa komunitas kamilah yang paling kuat dan tak terkalahkan;
meskipun sebenarnya kesalahan ada pada pihak kami? Entahlah… Tak mau aku
mencari kambing hitam di luar diriku…Mungkin lebih bijak mengeluarkan
balok di mataku dari pada selumbar di mata orang…Dan masih banyak litani
"mungkin" yang lain...
Jalanan basah sisa hujan malam tadi,
perlahan mulai kering oleh lalu-lintas pagi yang berangsur mulai
hiruk-pikuk. Sudah dari tadi pula, beberapa Polantas mulai beraktivitas
di pos jaga sempit di sudut perempatan itu. Sepintas aku kaget kalau
tanpa terasa ternyata sudah 120 kali matahari terbit, aku tidak
mengunjungi gereja. Sudah lama ternyata, aku lupa berbagi cerita pada
Sang Khalik. Terlalu lama aku menganggapNya cuma sekumpulan ritus dan
tradisi menjemukan dari sebuah agama yang harus dirayakan setiap hari
minggu. “Bang, permisi bang…mau bikin tenda jualan disini…” begitu bisik
pelan plus takut-takut seorang ibu paruh baya, pedagang gudeg pagi. Aku
tak heran dengan tatap ragu ibu itu, dengan perawakanku yang ABG (Agak
Besar Gittuuuu… ) belum lagi kulit yang cenderung gelap, membuatku harus
memikul stigma sejarah lokal kota ini bahwa pria Timor itu mudah marah
tanpa alasan.
Dari sudut mata aku menangkap senyum sumringah ibu
penjual gudeg itu saat motor membawaku perlahan pergi dari tempat itu.
Matahari sudah sepenggalah tingginya. Angin pagi yang khas segarnya,
membawa satu harapan baru. Yah..paling kurang aku masih lebih beruntung
dari begitu banyak orang yang kehilangan harapan. Lupa aku mensyukuri
tiap keping kebaikanNya yang kadang datang lewat cara yang aneh dan
membingungkan. Pada usapan sang bayu pagi aku hanya bisa lirih berbisik:
“Tuhan, taruh aku di tempat dimana Engkau mau memakaiku… Aku pasrah…
Satu kumohon, buatlah supaya aku dan smua sahabatku disini dan dimanapun
mereka berada, bisa berguna pada kehidupan ini…thnks banyak ya Bos!!
sampai ketemu di gereja nanti bos...!!”
Minggu, 24 Oktober 2010
BUON DOMINGGO!!!Selamat Hari Minggu….
No comments:
Post a Comment