Thursday, March 1, 2012

Satu pagi di Tugu Yogya

Satu pagi di Tugu Yogya

Sebungkus sudah…gumamku dalam hati. Baru saja kubuang puntung rokok terakhirku. Mungkin waktu juga belum sampai di angka 4 pagi, sebab lirih di balik bising kendaraan, adzan subuh belum berhenti berkumandang. Kucoba membuang jenuh dengan menghitung barisan semut pekerja yang sibuk merayap tak jauh dari kakiku mencari serpihan makanan, seolah tak mau kalah dengan para simbok pemikul yang juga sibuk menawari jasa pikulan rentanya dengan lembaran lusuh seribuan di pasar Kranggan ini, sebuah pasar di jantung kota yang tak jauh dari salah satu ikon kota pelajar ini: Tugu! Dengan segera menghitung barisan serdadu semut itu, menjadi aktivitas yang tak menarik lagi. Maka, habislah kreativitas mengusir jenuhnya nongkrong kali ini. Sebenarnya, tempat ini bukan the right spot untuk sekedar duduk dan terpekur. Hingar bingar para penjual sayur menawarkan dagangan pada para pembeli, beradu dengan bising kendaraan pengangkut pasar, menjadi sebuah paduan suara yang sangat jauh dari kata harmoni yang menyejukan hati. Capek, mungkin itu yang bisa mengamini alasan mengapa aku memilih tempat ini. Setelah berjam-jam mengelilingi jalan dan gang di kota ini dalam kebingungan, akhirnya penat juga badan ini, maka berlabuhlah aku di trotoar persis di depan pasar ini.
Bingung aku pada diriku jika bertanya (sekali lagi pada diri sendiri) apa sebenarnya alasanku memacu motor selama berjam-jam mengitari kota Ngayogyakarto ini. Mencari wangsit? Mungkin lebih murah dan mudah mencari wangsit di pengapnya bilik-bilik warung internet yang mendadak laris di kota ini (dengan bermain POKER mungkin?).
Mencari suasana baru? Tidak mungkin, karena sudah hampir 8 tahun mengeram di kota ini, aku telah sering melewati jalan-jalan itu. Tak ada yang baru sama sekali jalannya. Mungkin yang baru hanyalah, makin bertambah saja jumlah pemulung yang berlomba mencari sisa sampah semalam yang masih bisa dihargai seribu-dua ribu.
Mengusir gamangnya hati? Tidak juga. Karena aku tahu tempat andalanku mencari ketenangan hati, sambil mengeksplorasi spirit mudaku: kamarku sendiri.
Mencari daya tarik kota ini? Sudah pasti tidak, karena aku cukup tahu, kota ini telah kehilangan daya tariknya; buatku paling tidak  sejak wanita yang kusebut ‘pacar’ itu meninggalkan kota ini. Logika dan segenap pertimbangan akal sehatku tak mampu mengimbangi rentetan pertanyaan itu  lewat jawabannya yang presisi. Well, apapun itu, yang penting paling kurang dengan berjalan tak tentu arah ini, memberikan ekstra udara segar bagi dadaku yang beberapa bulan ini sering sesak saat malam datang.
Sesak karena masalah yang tak kunjung berhenti bersilahturahmi pada diriku. Sesak karena tak mampu menemukan jawab atas seribu tanya tentang esensi atas eksistensi hidupku. Sesak karena sudah lama pula aku menjadikan Tuhan itu sebuah kata, bukan ruh/roh; entah mulai kapan, aku percaya pada teori Big BangSupernova” serta berbagai omong kosong teori alam semesta dan bukannya pada Sang Khalik sebagai Causa Prima kehidupan ini. Atau bisa jadi juga sesak karena orientasi hidup yang juga sudah lama hilang ditelan ambisi menjadi kompetitor hidup yang selalu menang, dengan tidak mentolerir kekalahan/kegagalan. Mungkin juga sesak karena akal mulai diracun gas sianida bernama: Harta, dan jadilah aku “Soeharto” kecil yang mulai rakus melihat lembaran rupiah.
Lama aku terpekur kosong di trotoar setengah basah itu. Mencoba meyakinkan hati, jika pada titik ini toh aku masih hidup juga di dunia ini. Mencoba menyederhanakan hati dan pikiran bahwa tidak ada keputusan yang harus disesali di tiap pagi menyambut hari baru. Yah…sekedar membulatkan tekad bahwa hidupku masih patut untuk dijalani. Dalam pejaman mata sesaat, penggalan kata bijak pria yang dari kecil sampai sekarang kusebut AYAH itu terngiang kembali: “…seorang pria dihargai bukan karena ia berhasil menyelesaikan apa yang ia mulai, tapi karena kerendahan hati dan usaha mengalahkan diri sendiri dalam proses “menyelesaikan” tadi, sebab pria itu selalu to much pride, terlalu mengagungkan kebanggaan diri serta ego dan lupa belajar pada kesederhanaan dan kerendahan hati dalam tiap pencapaiannya…”. Di bawah temaram lampu jalan, aku mencoba mengekstrak penggalan ucapan tadi. Pada tipisnya gerimis yang melempar angin dingin ke sumsum tulang, perlahan aku paham maksud ucapan anak petani berpendidikan S1 Pertanian itu. Mungkin sudah terlalu lama, aku lelap pada mimpi-mimpi tentang ego dan kebanggaan diri. Baru sadar aku (mungkin meski terlambat?) bahwa tak terhitung waktu terbuang, kuhabiskan untuk merayakan rasa merdeka tinggal jauh di luar rumah. Sekian banyak tindakan sia-sia kubuat sekedar melampiaskan kekesalan pada hidup yang terlanjur kuanggap tak ada tujuan ini. Mungkin aku lupa belajar pada kokohnya dua pohon beringin tua yang berdiri bertahun-tahun di depan alun-alun selatan keraton Yogya, bahwa kesederhanaan itu bisa berarti sedikit bicara tapi tegas berdiri pada prinsip. Lupa juga aku berguru pada bijaknya tembok keraton, yang mengartikan kesederhanaan bukan pada keinginan membentengi ide-ide sendiri dengan congkak, tapi juga pada kehendak membuka diri pada orang lain dan membuat kita menjadi tembok nyaman tempat orang lain berlindung. Mungkin pada karang tepian pantai Parangtritis yang digempur ombak, aku bisa belajar menerima hempasan masalah yang datang sekeras apapun dan mengembalikannya dengan tenang kepada SANG PEMBERI. Mungkin aku terlalu lama tinggal dalam “kenyamanan” berbuat salah, tanpa ada tanggung jawab pada “otoritas” tertentu?. Mungkinkah juga  kesombongan komunal ke-Kupang-an aku (kalau tak dapat dipakai kata “kami”), membiasakan aku untuk juga menghilangkan bagian kompromistik, tepa selira dan rendah hati dengan komunitas lain saat ada konflik/gesekan, dan membiarkan aku terjebak pada solidaritas komunal yang palsu berdasar romantisme sejarah di kota ini, bahwa komunitas kamilah yang paling kuat dan tak terkalahkan; meskipun sebenarnya kesalahan ada pada pihak kami? Entahlah… Tak mau aku mencari kambing hitam di luar diriku…Mungkin lebih bijak mengeluarkan balok di mataku dari pada selumbar di mata orang…Dan masih banyak litani "mungkin" yang lain...
Jalanan basah sisa hujan malam tadi, perlahan mulai kering oleh lalu-lintas pagi yang berangsur mulai hiruk-pikuk. Sudah dari tadi pula, beberapa Polantas mulai beraktivitas di pos jaga sempit di sudut perempatan itu. Sepintas aku kaget kalau tanpa terasa ternyata sudah 120 kali matahari terbit, aku tidak mengunjungi gereja. Sudah lama ternyata, aku lupa berbagi cerita pada Sang Khalik. Terlalu lama aku menganggapNya cuma sekumpulan ritus dan tradisi menjemukan dari sebuah agama yang harus dirayakan setiap hari minggu. “Bang, permisi bang…mau bikin tenda jualan disini…” begitu bisik pelan plus takut-takut seorang ibu paruh baya, pedagang gudeg pagi. Aku tak heran dengan tatap ragu ibu itu, dengan perawakanku yang ABG (Agak Besar Gittuuuu… ) belum lagi kulit yang cenderung gelap, membuatku harus memikul stigma sejarah lokal kota ini bahwa pria Timor itu mudah marah tanpa alasan.
Dari sudut mata aku menangkap senyum sumringah ibu penjual gudeg itu saat motor membawaku perlahan pergi dari tempat itu. Matahari sudah sepenggalah tingginya. Angin pagi yang khas segarnya, membawa satu harapan baru. Yah..paling kurang aku masih lebih beruntung dari begitu banyak orang yang kehilangan harapan. Lupa aku mensyukuri tiap keping kebaikanNya yang kadang datang lewat cara yang aneh dan membingungkan. Pada usapan sang bayu pagi aku hanya bisa lirih berbisik: “Tuhan, taruh aku di tempat dimana Engkau mau memakaiku… Aku pasrah… Satu kumohon, buatlah supaya aku dan smua sahabatku disini dan dimanapun mereka berada, bisa berguna pada kehidupan ini…thnks banyak ya Bos!! sampai ketemu di gereja nanti bos...!!”


Minggu, 24 Oktober 2010
BUON DOMINGGO!!!Selamat Hari Minggu….


No comments:

Post a Comment