| SEMOGA PARA PEJABAT DI NEGERI KAYA INI, BISA TERBUKA MATA DAN HATINYA SETELAH MELIHAT APA YANG DIPRAKTEKKAN JOSE MUJICA |
Beruang si penjelajah ulung, pecinta yang romantis, pekerja keras, si tukang bermain, si keras kepala, si berani yang jarang kenal kompromi.. Hutan ruang bermainnya.. Langit batas mimpinya.. Gunung temannya, angin sahabatnya..
Tuesday, May 19, 2015
Kuhidangkan hari buatmu
Mungkin, ini karena kita terbiasa mengulang pagi dgn cara yang monoton..pula dingin..
Mungkin saja karena kita mendulang mimpi yang berbeda..
dan akhirnya terbangun dengan euforia yang tak sama..
Atau boleh jadi, sebab aku salah menerjemahkan arti..
hingga tak pandai aku menangkap pertanda..
Maka..
Maaf, jika pagi yg kuhidangkan masih pagi yang sederhana..yang jauh dari kata mewah..
Maaf, bila hari yang kutanak, tak seenak hari-hari yang dimasak pria sebelumku..
Maaf, seumpama menu hidup kita belum dapat kuganti dgn menu mentereng..
Satu saja yang kupinta..bersoleklah secantik mungkin dan mari gandeng tanganku dengan banggamu itu..
Dan walau kita menyusur teriknya siang,
senyumlah saja, gadisku..
Kujanjikan, terik ini akan kuganti dengan
kerling merona lembayung senja, di ujung jalan, di ujung hari..
Mungkin saja karena kita mendulang mimpi yang berbeda..
dan akhirnya terbangun dengan euforia yang tak sama..
Atau boleh jadi, sebab aku salah menerjemahkan arti..
hingga tak pandai aku menangkap pertanda..
Maka..
Maaf, jika pagi yg kuhidangkan masih pagi yang sederhana..yang jauh dari kata mewah..
Maaf, bila hari yang kutanak, tak seenak hari-hari yang dimasak pria sebelumku..
Maaf, seumpama menu hidup kita belum dapat kuganti dgn menu mentereng..
Satu saja yang kupinta..bersoleklah secantik mungkin dan mari gandeng tanganku dengan banggamu itu..
Dan walau kita menyusur teriknya siang,
senyumlah saja, gadisku..
Kujanjikan, terik ini akan kuganti dengan
kerling merona lembayung senja, di ujung jalan, di ujung hari..
("Your last man stand", November 2014)
Bung..apalah kita ini?
Bung, kita ini hanya secarik kertas dalam buku zaman..
Kusam, lusuh saat buku menua..
Berdebu dan kumal di pojok saat usai tugas kita..
Lantas apa yg hendak kita cari pula?
Hikmat manalagi yg hendak kita dustakan?
Jika tugas kita hanya menghantar aksara kepada yg membaca?
Jika misi kita hanya menuang idea ke dalam cawan yg haus ilmu?
Bung, kita ini cuma selembar halaman pada naskah kehidupan..
Jauhkan angkuh dan jadilah rendah hati,
Buang sombongmu, Cuma secarik kertas kita ini,bung..
Agar kelak meski buku itu kusam-lusuh-berdebu, di pojok ruang..
kita masih diingat sbg halaman yg mempesona dlm sederhananya ide..
Dan,dimuliakanlah selalu Sang Penulis Buku itu..
Kusam, lusuh saat buku menua..
Berdebu dan kumal di pojok saat usai tugas kita..
Lantas apa yg hendak kita cari pula?
Hikmat manalagi yg hendak kita dustakan?
Jika tugas kita hanya menghantar aksara kepada yg membaca?
Jika misi kita hanya menuang idea ke dalam cawan yg haus ilmu?
Bung, kita ini cuma selembar halaman pada naskah kehidupan..
Jauhkan angkuh dan jadilah rendah hati,
Buang sombongmu, Cuma secarik kertas kita ini,bung..
Agar kelak meski buku itu kusam-lusuh-berdebu, di pojok ruang..
kita masih diingat sbg halaman yg mempesona dlm sederhananya ide..
Dan,dimuliakanlah selalu Sang Penulis Buku itu..
Sepucuk surat dari rakyat buat pelacurnya!
Kalian..hanya sekumpul pelakon yang tak rapih bersandiwara..
Pun ketika pementasan itu berjudul "Mencari Kebenaran"..
Cuma sebaris lirik lagulah kalian itu..
yang mendayu-merayu bernyanyi tentang keadilan..
demi harmoninya kejahatan kalian merampok bangsa..
Pun ketika pementasan itu berjudul "Mencari Kebenaran"..
Cuma sebaris lirik lagulah kalian itu..
yang mendayu-merayu bernyanyi tentang keadilan..
demi harmoninya kejahatan kalian merampok bangsa..
Tak perlu malu menyandang predikat wakil rakyat..
Saat tahu setiap putus palu di ruang senat adalah untuk rakyat..
Atau saat tahu, bahwa misteri trilyunan anggaran gelap itu bukan datang dari hasil mengangkangi hak rakyat!
Ini saat pembuktian,
bahwa kalian adalah jawara konstituen-mu..
bukan juara partaimu..
Yang akan selalu geram berdiri-berteriak lantang semata karena
mereka yg memikulmu ke singgasana
sedang dicumbui haknya bak lonte..
Kami ini rakyat yg memilih kalian..
Bukan sekumpul pelacur,
yang kalian setubuhi sebentar
pada pesta demokrasi itu,
lantas kalian bodohi dengan onani politik murahanmu itu..
Jika tak sanggup menjadi wakil konstituenmu,
tak usahlah kau bercerita tentang pengorbanan kau dan keluargamu..
Jika sudah berkorban lantas apa?
Apakah itu artinya rakyat harus mengupahi pengorbananmu pula?
Sejenis lontekah juga dirimu?
Jangan..jangan membuat kami yakin..
Bahwa kalian hanya gerombolan pelacur
Yang tak malu melacurkan integritas dan kebaikan
demi membela ego..
Jika kalian benar..
maka tunjukkanlah kebenaran itu..
Bukan menunjukkan pembenaranmu..
Jika kalian salah..akuilah saja,
maka kamipun paham..
bahwa rahmat memimpin itu
masih disimpan DIA di bejana tanah liat yg rapuh..
Dan untuk itupun
kami masih akan tetap mencintai kalian
sebagai wakil kami yg bermartabat..
Jangan pernah menghitung pengorbanan di hadapan rakyat!!!
Sudah sering dan telah lama pula, rakyat berkorban
memenuhi gaji dan kebutuhan mentereng kalian
dengan tiap tetes keringat tulus..
Jika masih goblok pula..
berhentilah curhat air mata buayamu
tentang kelakuan Si Cina dari Belitung itu..
Bolehlah gerombolan preman bengis di belakangmu..
Tapi di belakang si cina itu, barisan rakyat masih bisa lebih cerdas-beringas,bung!!
(Surat buat si bekas kepala preman Tanah Abang, yang kini duduk di ruang senat Ibukota negara ini, kiranya jadilah dirimu segera cerdas!!)
-Jakarta, Maret 2015-
Saat tahu setiap putus palu di ruang senat adalah untuk rakyat..
Atau saat tahu, bahwa misteri trilyunan anggaran gelap itu bukan datang dari hasil mengangkangi hak rakyat!
Ini saat pembuktian,
bahwa kalian adalah jawara konstituen-mu..
bukan juara partaimu..
Yang akan selalu geram berdiri-berteriak lantang semata karena
mereka yg memikulmu ke singgasana
sedang dicumbui haknya bak lonte..
Kami ini rakyat yg memilih kalian..
Bukan sekumpul pelacur,
yang kalian setubuhi sebentar
pada pesta demokrasi itu,
lantas kalian bodohi dengan onani politik murahanmu itu..
Jika tak sanggup menjadi wakil konstituenmu,
tak usahlah kau bercerita tentang pengorbanan kau dan keluargamu..
Jika sudah berkorban lantas apa?
Apakah itu artinya rakyat harus mengupahi pengorbananmu pula?
Sejenis lontekah juga dirimu?
Jangan..jangan membuat kami yakin..
Bahwa kalian hanya gerombolan pelacur
Yang tak malu melacurkan integritas dan kebaikan
demi membela ego..
Jika kalian benar..
maka tunjukkanlah kebenaran itu..
Bukan menunjukkan pembenaranmu..
Jika kalian salah..akuilah saja,
maka kamipun paham..
bahwa rahmat memimpin itu
masih disimpan DIA di bejana tanah liat yg rapuh..
Dan untuk itupun
kami masih akan tetap mencintai kalian
sebagai wakil kami yg bermartabat..
Jangan pernah menghitung pengorbanan di hadapan rakyat!!!
Sudah sering dan telah lama pula, rakyat berkorban
memenuhi gaji dan kebutuhan mentereng kalian
dengan tiap tetes keringat tulus..
Jika masih goblok pula..
berhentilah curhat air mata buayamu
tentang kelakuan Si Cina dari Belitung itu..
Bolehlah gerombolan preman bengis di belakangmu..
Tapi di belakang si cina itu, barisan rakyat masih bisa lebih cerdas-beringas,bung!!
(Surat buat si bekas kepala preman Tanah Abang, yang kini duduk di ruang senat Ibukota negara ini, kiranya jadilah dirimu segera cerdas!!)
-Jakarta, Maret 2015-
Kita : (masih) Indonesia Raya, Bung!!
Di suatu pagi yang memusingkan, dalam perjalanan menuju kantor, saya berpapasan dengan rombongan anggota ormas agama yang sepanjang jalan memekakkan telinga para pengguna jalan lain dengan kendaraan bak terbuka yang dipenuhi dengan berbagai jenis pengeras suara. Spanduk-spanduk dan aneka tulisan-tulisan protes, mengisyaratkan bahwa mereka sedang berdemo dan ingin ber-unjuk rasa (meskipun sangat tidak kelihatan apa-apa jika mereka memakai perasaan!).
Seruan-seruan yang provokatif dan beberapa diantaranya sangat melecehkan dan menghina pemeluk agama lain, seperti biasa saja buat mereka. Mungkin karena, konon di negeri ini kaum mayoritas sulit dikritik apalagi dituntut secara hukum atas penghinaan pada agama lain.
Syukurnya rombongan itu tak begitu panjang. Dengan sedikit kelihaian berkendara yang tersisa semasa kuliah dulu, saya bisa membebaskan diri dari rombongan yang menambah macetnya Jakarta di pagi hari itu. Sekitar 100 meter saja panjang rombongan tersebut. Mungkin karena belum sampai ke titik konsentrasi untuk berunjuk rasa.
Lambat-laun, suara pengeras suara yang bikin tuli temporal itu, mulai lamat-lamat terdengar di belakang. Anehnya, semakin jauh dari rombongan itu, pikiran saya semakin terganggu. Iya..tepat..TERGANGGU! Dan, jadilah sebaris sastra yang tidak berani saya sebut puisi ini :
"Terlalu jauh kita membatasi Tuhan dlm konsep agama.
lupakah kalau Dia itu Universal dan jauh lbh besar dari otak kecil kita?
Manusia memenjara Tuhan dalam agama
Dan sialnya, mengira bahwa tuhan yg dipenjaranya dalam konsep buatannya itulah yg paling benar..
Itu sebabnya ada kaum radikalis yg tersamar sebagai aktivis
pun kaum ekstremis berkedok cendekiawan berkelakuan cendawan..
Tuhan tidak perlu diterjemahkan pada banyaknya pemahaman ceramahmu (yang kau kira dirimu sudah paham betul itu)..
pun tidak perlu IA kau jabarkan pada tindakan sok heroikmu,
membelaNya dgn membunuh manusia dan kemanusiaan..
Tuhan tidak butuh dibela,kawan..
Apalagi dikerangkeng sebagai tawanan konsep beragamamu itu!!!
Luaslah menimbang agar jauhlah bimbang
dan dalamlah membenak..
supaya kelak kamu tak terjebak..
dan idea dlm kepalamu pun tak terserak!!
Terjebak-serak-berak pada konsep dangkalmu sendiri,broh..cuy..bray..om..mas..kang!
SALAM INDONESIA RAYA!
(semoga sorban itu sama kita pahami sebagai keinginan menyucikan kepala; tempat lahir ide-ide tentang kebaikan dan kemanusiaan..dan jangan biarkan sorban hanya berakhir sebagai bungkus kepala.. kalau hanya bungkus kepala, kondom pun bisa, Bung!)
Seruan-seruan yang provokatif dan beberapa diantaranya sangat melecehkan dan menghina pemeluk agama lain, seperti biasa saja buat mereka. Mungkin karena, konon di negeri ini kaum mayoritas sulit dikritik apalagi dituntut secara hukum atas penghinaan pada agama lain.
Syukurnya rombongan itu tak begitu panjang. Dengan sedikit kelihaian berkendara yang tersisa semasa kuliah dulu, saya bisa membebaskan diri dari rombongan yang menambah macetnya Jakarta di pagi hari itu. Sekitar 100 meter saja panjang rombongan tersebut. Mungkin karena belum sampai ke titik konsentrasi untuk berunjuk rasa.
Lambat-laun, suara pengeras suara yang bikin tuli temporal itu, mulai lamat-lamat terdengar di belakang. Anehnya, semakin jauh dari rombongan itu, pikiran saya semakin terganggu. Iya..tepat..TERGANGGU! Dan, jadilah sebaris sastra yang tidak berani saya sebut puisi ini :
"Terlalu jauh kita membatasi Tuhan dlm konsep agama.
lupakah kalau Dia itu Universal dan jauh lbh besar dari otak kecil kita?
Manusia memenjara Tuhan dalam agama
Dan sialnya, mengira bahwa tuhan yg dipenjaranya dalam konsep buatannya itulah yg paling benar..
Itu sebabnya ada kaum radikalis yg tersamar sebagai aktivis
pun kaum ekstremis berkedok cendekiawan berkelakuan cendawan..
Tuhan tidak perlu diterjemahkan pada banyaknya pemahaman ceramahmu (yang kau kira dirimu sudah paham betul itu)..
pun tidak perlu IA kau jabarkan pada tindakan sok heroikmu,
membelaNya dgn membunuh manusia dan kemanusiaan..
Tuhan tidak butuh dibela,kawan..
Apalagi dikerangkeng sebagai tawanan konsep beragamamu itu!!!
Luaslah menimbang agar jauhlah bimbang
dan dalamlah membenak..
supaya kelak kamu tak terjebak..
dan idea dlm kepalamu pun tak terserak!!
Terjebak-serak-berak pada konsep dangkalmu sendiri,broh..cuy..bray..om..mas..kang!
SALAM INDONESIA RAYA!
(semoga sorban itu sama kita pahami sebagai keinginan menyucikan kepala; tempat lahir ide-ide tentang kebaikan dan kemanusiaan..dan jangan biarkan sorban hanya berakhir sebagai bungkus kepala.. kalau hanya bungkus kepala, kondom pun bisa, Bung!)
Subscribe to:
Posts (Atom)