Membuat sulit mengekstrak rasa
apalagi logika..
Lantas sibuk mencari katarsis
membenam diri pada gilanya hari berlari...
Berharap dengan simpuh lutut
di depan lilin bernyala meminta: "Tuhan, jauhkan cawan ini dari aku..."
Lalu memaksa pena menari
mereduksi gusar
agar tariannya menentramkan guncang gemuruh dada...
Dulu, berharap jadi gunung
Tegak-kokoh menahan bayu menggila
Abadi saat zaman berganti
Setia menunggui bumi
Bertarung dalam diam
Dan menang pun dalam hening
Karena tahu tak akan patah
Pernah, bermimpi jadi karang tepian pantai
Tenang-diam berbaring
Dalam ketenangan aneh
Menunggu hempas ombak, yang lembut pun ganas
Teguh meyakini, tak ada ombak yang akan menggeser
Tak takut, karena tahu tak akan patah
Aneh Buku Hidup ini...
Patah-tumbuh aku diberi
dalam patah aku mengerti tumbuh
dalam tumbuh aku paham tentang patah
Smoga benar...
bahwa jiwa kanak dibentuk saat patah
dan jadi bijak pun dewasa saat tumbuh
bahwa pucuk teh muda dipatahkan
agar bertumbuh pula pucuk (pemahaman) baru lain...
Jadi, apalah arti patah jika akan tumbuh?
Apalah arti tumbuh jika bakal patah?
Saat patah kubersyukur sedang tumbuh
Saat tumbuh kuberdoa agar tak lupa rasa patah...
Buatmu "S", patah-tumbuhku
Bekasi, Medio Maret 2012
No comments:
Post a Comment