Tuesday, August 23, 2016

PAPUA SUDAH BOLEH MERDEKA (?)


Pagi ini, saya sarapan dengan kenyangnya. Menyeruput segelas kopi pahit kesukaan, sambil mengunyah nasi goreng buatan istri yang boleh saya katakan bisa membuat sebagian cheff restaurant bintang 5 pun tersinggung: bagaimana mungkin seorang perawat bisa memasak seenak ini? Ahaay..
Sarapan berkualitas (jika boleh saya sebut demikian) yang lezatnya seolah masih tinggal di lidah setelah berjam-jam dimakan itu, seketika hilang oleh sebab perasaan tertohok. Tertohok oleh sebuah artikel berjudul “Kenapa Papua tidak boleh merdeka?” yang ditulis seseorang bernama Zely Ariane pada situs indoprogress.com.
Berbagai pertanyaan yang tidak saja menggugat logika nasionalisme saya, tetapi juga mengadili nurani dan cara pandang saya tentang hak asasi manusia. Beberapa pertanyaan satir bernada retorikal benar-benar menghujam dan sukses memporak-porandakan logika berpikir kita mengenai konsep kenegaraan yang pernah dicetuskan beberapa filsuf kenamaan sekelas Jhon Locke, Thomas Hobber dan J.J. Rouseau.
Di negara yang rajin memelihara “paranoia” disintegrasi ini, setiap kegiatan yang merujuk pada kebebasan berpendapat dan berekspresi jika ‘dianggap’ -(meski belum jelas pula parameter apa yang dipakai dalam “beranggapan” itu)- bersinggungan langsung dengan ajakan atau seruan untuk “merdeka”, sudah bisa dipastikan anda akan masuk dalam daftar pengintaian pihak intelijen dan skenario terburuknya adalah anda akan ditangkap dengan tuduhan makar, mengancam integrasi bangsa dan berbagai tuduhan (asal) lainnya. Mungkin bangsa ini bisa jadi kurang piknik. Karena kata ‘merdeka’ sendiri, sebenarnya sudah lama menjadi hal yang mahal di negeri ini, sehingga pengertian dan pengaplikasiannya menjadi serampangan dan tumpang tindih.
Apa itu Merdeka? Terminologi ‘Merdeka’ erat kaitannya dengan kebebasan untuk menentukan nasib; menentukan dan menjalankan pilihan sendiri. Menurut versi online dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ‘merdeka’ itu sendiri berarti :
“1 bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri: sejak proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 itu, bangsa kita sudah --; 2 tidak terkena atau lepas dari tuntutan: -- dari tuntutan penjara seumur hidup;3 tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa:  boleh berbuat dengan --;”
sedangkan bila ditambahkan imbuhan Ke-an menjadi kemerdekaan yang berarti : “ tidak terpengaruh (oleh apa dan siapa pun); bebas atau lepas sama sekali”. Jelas sekali, termin Merdeka adalah sebuah termin yang langsung berkaitan dengan kebebasan eksistensi manusia dalam memperjuangkan eksistensi diri pribadinya maupun kelompok/golongannya.
Menjadi jelas pulalah, betapa kemerdekaan yang diteriakkan di masa sekarang akan menjadi berbeda rasa dan nuansa ketimbang pekikan “merdeka” yang diteriakkan berulang kali pada masa kolonialisme. Tapi jangan lupa, meski berbeda nuansa namun secara prinsipil, kata “merdeka” yang dulu diteriakkan para pahlawan negara dalam membela negeri ini, juga akan sama arti dan motivasinya dengan pekikkan “merdeka” yang diteriakkan oleh mayoritas para aktivis kemerdekaan Papua, dalam perspektif memperjuangkan hak dasariahnya untuk mendapatkan “keadilan”; adil diperlakukan sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang memiliki martabat, adil untuk mendapatkan akses pendidikan, kesehatan dan pemerataan pembangunan serta yang tak kalah pentingnya adalah mendapatkan keadilan dalam setiap kasus hukum dengan orang asli Papua sebagai korbannya. Dalam titik ini, ketika kita memutuskan untuk menggali lebih dalam, ternyata persoalan Papua sejak dahulu kala, telah menciptakan kompleksitas persoalan yang bak benang kusut, membutuhkan pemimpin yang sabar dan tekun mengurai kekusutan itu. Saya akan sepakat dengan beberapa pengamat yang mengatakan bahwa kompleksitas yang terjadi disebabkan perlakuan diskriminatif-rasialis terhadap orang Papua, perbedaan pandangan historikal dan politik antara Papua vs Jakarta serta adanya ketimpangan hukum dalam penyelesaian kasus pelanggaran HAM di Papua. Persoalan Papua sudah tidak bisa kita nilai dengan paradigma lama lagi, dengan mengatakan rakyat Papua ‘bergelora’ untuk merdeka karena perut mereka lapar. Persoalan perut lapar hanyalah sebagian dari puncak es dari fenomena gunung es dalam persoalan Papua.
Kita semua sepakat, jika pada prinsipnya berdirinya sebuah negara juga merupakan pengejawantahan dari apa yang disebut dengan teori “contract social”. Teori ini secara gamblang dijabarkan oleh beberapa pemikir ulung semisal Thomas Hobbes, John Locke dan J.J. Rouseau. Menurut mereka, perjanjian atau kontrak sosial ini adalah perjanjian antara rakyat dengan para pemimpinnya, atau antara manusia-manusia yang tergabung di dalam komunitas tertentu. Teori kontrak sosial adalah suatu pandangan yang melihat bahwa kewajiban moral dan politis seseorang bergantung pada suatu kontrak atau perjanjian diantara mereka untuk membentuk suatu komunitas masyarakat yang mereka tinggali (Friend, n.d). Konsep teori kontrak sosial berakar pada manusia yang pada awalnya memiliki keadaan alamiah (state of nature). Mereka tidak mempunyai pemerintahan dan hukum yang dapat mengatur mereka sehingga hal ini menjadi batu sandungan mereka dalam bermasyarakat.
Untuk mengatasi kesulitan dan hambatan tersebut, manusia pada akhirnya memasuki dua perjanjian yakni Pactum Unionis dan Pactum Subjectionis. Pada pakta yang pertama, manusia mencari suatu perlindungan atas hidup dan properti mereka yang pada akhirnya membentuk suatu komunitas masyarakat atau society, dimana masyarakat berusaha untuk saling menghormati dan hidup dalam keharmonisan. Pakta yang kedua menerangkan bahwa manusia pada akhirnya bersatu dan berjanji untuk mematuhi suatu otoritas dan menyerahkan sebagian ataupun seluruh hak dan kebebasan mereka pada otoritas tersebut. Otoritas yang berwenang ini sendiri berfungsi sebagai jaminan proteksi atas hidup, properti dan bahkan kemerdekaan masyarakat itu sendiri. Oleh karenanya, untuk menghindari hambatan akibat keadaan alamiah mereka, manusia kemudian setuju untuk tinggal di bawah suatu hukum umum yang mengatur kontrak sosial masyarakat itu sendiri; mengatur pencapaian mereka akan kesejahteraan dan keadilan.
Bukan berlebihan, jika setiap wilayah di Indonesia yang pada waktu itu (menginginkan?) bergabung dengan ibu pertiwi Indonesia sadar bahwa segala kepentingan primordialisme dan “chauvinisme” lokal akan terfasilitasi oleh pemerintah pusat (Jakarta) dengan sama-sama berkiblat pada Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa. Setiap kerajaan dan kesultanan di seluruh Nusantara menaruh kepercayaan penuh, bahwa dengan bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, keadilan dan kesejahteraan akan menjadi sebuah konsep perjuangan bersama; melampaui perjuangan melepaskan diri dari kolonialisme. Saya kira, demikian pun Papua, yang meski tersengal-sengal mengejar rombongan barisan bernama Indonesia, namun mereka mencoba bergabung dan menyelaraskan langkah kaki dalam rombongan barisan itu. Inilah “contract social” itu!!

****
Terlepas dari kompleksitas persoalan tersebut, beberapa waktu lalu tepatnya tanggal 15 Juli 2016, terjadi sebuah insiden di Yogyakarta. Insiden tersebut berawal ketika sekelompok mahasiswa Papua yang akan melakukan aksi damai berupa long march dari asrama Papua di daerah Kamasan menuju titik Nol Kilometer Yogyakarta. Kelompok mahasiswa yang merupakan bagian dari aksi Persatuan Pergerakan Pembebasan untuk Papua Barat atau United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) menyerukan aspirasinya mengenai mengapa Papua Barat menginginkan kata sakral yang ditabukan di Indonesia tersebut yaitu : “Merdeka”. Memang, pada prinsipnya, saya dan anda pun tidak bisa dengan mudah menerima konsep kemerdekaan bagi orang-orang di Papua Barat. Namun, tindakan dan perlakukan yang diberikan sebagai bagian dari reaksi Kepolisian (baca : negara) dan sebagian elemen masyarakat dalam menyikapi hal ini, patut disesalkan. Aparat yang ada di tempat itu, sebagaimana direkam oleh CNN Indonesia dan Tempo , melakukan tindakan represif yang tidak tepat lewat penangkapan dan penyegelan lokasi asrama Papua dan membiarkan penghuninya kelaparan di dalamnya. Itu pun masih ditambah dengan keterangan beberapa saksi mata yang melihat pemukulan yang dilakukan oleh aparat. Keadaan miris ini, dilengkapi dengan berbagai umpatan dan makian dari elemen-elemen organisasi masyarakat berlabel nasionalis-patriot sejati kepada mahasiswa-mahasiswa Papua. Umpatan tersebut bukan saja menghina orang Papua, namun merendahkan harkat dan martabat mereka sebagai sesama manusia.
Tulisan ini hanyalah curhat yang bukannya menunjukkan keberpihakan saya pada mahasiswa Papua di Jogja, tapi ini hanya pernyataan keberpihakan pada kemanusiaan. Ini bukan solidaritas atas nama sesama orang Indonesia Timur (yang bertahun-tahun pemerintahan berjalan, kami sama-sama merasakan berbagai pelosok desa kami masih gelap dan kekurangan berbagai sarana standar hidup layak), namun ini ungkapan nurani atas dasar solidaritas kemanusiaan untuk mengingatkan bahwa kita semua punya hak dan kedudukan yang sama di mata hukum. Ini bukan juga artinya saya kontra pada upaya menjaga NKRI, tetapi justru sebaliknya, bahwa masih ada banyak cara "terhormat" untuk menjaga rasa persatuan kita.
Sudah beberapa bulan berjalan dan refleksi ini masih menyisakan tanya besar dalam benak saya : apakah hukum masih menjadi panglima tertinggi di Republik ini? Ataukah hukum hanya akan menjelma menjadi panglima tertinggi di republik ini saat memfasilitasi kepentingan-kepentingan politis semata dari segelintir orang yang memiliki kekuasaan dan pengaruh? Apakah hukum jika bukan menjadi alat penguasa, akan kembali menjadi babu di dalam rumah bernama Indonesia, saat suara dari orang-orang yang tertindas berteriak mencari keadilan?
Jika kasus ini dan kasus-kasus pelecehan SARA serta pelanggaran HAM lain di Papua tidak ditangani serius, maka kita tinggal menunggu waktu kapan bom perlawanan atas ketertindasan akan meletup. Kita sebenarnya sedang menyalakan bom disintegrasi saat pintu dialog dan pendekatan yang tepat terhadap persoalan Papua tidak ditangani dengan serius. Keseriusan itu bisa diawali dengan membuka kembali kasus-kasus pelanggaran HAM di Papua dan mengembalikan keadilannya kepada pihak korban yang selama ini memendam marah. Bukankah kasus Timor Leste sudah mengajarkan bangsa ini untuk lebih bijak menangani ini? Jangan kita terbiasa menjadikan kasus pelanggaran-pelanggaran HAM yang berkedok bela negara-bela persatuan sebagai biang penyakit disintegrasi di Indonesia, lantas mengkambing-hitamkan aspirasi pencarian keadilan sebagai bagian dari upaya makar!
Benar kata Adnan Buyung Nasution, kelak kita akan mengenang bahwa Papua pernah bergabung dengan Indonesia. NKRI memang harga mati, tetapi cara-cara mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa sudah semestinya tidak dengan cara melanggar hak dasariah seseorang atau suku tertentu. Bergeloranya orang Papua meminta kemerdekaan, sebenarnya tergantung dari sikap kita memberi keadilan yang sama kepada mereka. Harus kita ingat, bahwa bergabungnya setiap wilayah termasuk Papua ke dalam NKRI, karena mereka percaya bahwa segala tetek bengek mengenai kontrak sosial sudah bukan menjadi perdebatan lagi di tanah khatulistiwa ini. Kontrak sosial yang kita kenal dalam rumusan paling sederhana adalah Pancasila, yang sudah dengan baik dirancang oleh para tokoh pendiri bangsa ini. Bahwa dalam Pancasila, kita bersama-sama percaya akan adanya persatuan Indonesia yang memberi kesejahteraan dan keadilan sosial bersama. Bahwa dalam Pancasila, segala hak dasariah setiap suku dan individu yang menjadi warga negara Indonesia, mendapat perlindungan sepenuhnya. Jika tidak mendapatkan itu semua, bukankah berarti “contract social” itu dengan sendirinya berakhir? Dan sahkah jika bagian dari “society” yang tidak sejahtera dan tidak mendapatkan keadilan tersebut memilih untuk pergi? Saya kebingungan mencari letak kesalahan orang atau organisasi yang menyuarakan kemerdekaan Papua. Sebab, harus jujur diakui, kita telah melukai h
ati dan perasaan orang Papua sendiri. Kita telah gagal menempatkan mereka sebagai saudara kita dari ujung timur dengan tidak memperlakukan mereka sebagaimana warga negara yang memiliki hak hidup yang sama dengan warga negara Indonesia di manapun berada. Upaya terbaik adalah membuka ruang dialog dengan konsep dialog yang sama-sama dipahami baik oleh Jakarta (pemerintah) maupun oleh pihak aktivis penyuara kemerdekaan.
Bukan dengan jargon "NKRI harga mati" lantas segala aspirasi menuntut kesejahteraan dan kelaikan hidup ditanggapi dengan sikap represif apalagi dengan sikap ofensif terhadap kemanusiaan. Nasionalisme kita tidak akan bertambah poin plus nya jika kita masih saja bersikap terkotak-kotak. Kita tidak akan menjadi lebih patriot dengan menghujat seumpama binatang kepada orang-orang yang kita bilang saudara sesama orang Indonesia, pun ketika mereka sedang menyuarakan aspirasi mereka. Kita gagal mengambil hati Papua, maka mereka menyuarakan aspirasi itu. Seharusnya persoalan ini disikapi dengan bijak bukan dengan tindakan main hakim oleh ormas tertentu dan berkesan "dibiarkan" oleh aparat. Saya setuju dengan pendapat bahwa tindakan terhadap teman-teman Papua di Jogja, sangat mirip tindakan kaum kolonialis terhadap rakyat Indonesia dulu, yang alih-alih meredam gerakan, malah akan mengobarkan solidaritas perlawanan yang jauh lebih besar. Ini saatnya kata Bhineka Tunggal Ika tidak hanya jadi hiasan pemanis di bawah cengkeraman Garuda. Salam Indonesia Satu.

S.Ph. Ryfal Badjo


Thursday, August 11, 2016

MENAMPI LULUS atau sekedar MENGEJAR LOLOS ?


Reshuffle kabinet yang dilakukan presiden Joko Widodo baru saja dilakukan. Pertimbangan untuk mengangkat menteri-menteri baru untuk menggantikan dengan yang kinerjanya memiliki “raport merah”, pun akhirnya melahirkan sederet nama yang kini duduk di tampuk (empuk) memimpin departemen-departemen yang dinilai strategis dalam mendukung pemerintahan Jokowi. Reshuffle kabinet kerja jilid dua ini, sudah barang tentu telah melalui kajian dan pertimbangan dari “tim ninja warrior” presiden Jokowi (tim yang konon punya durabilitas kerja yang luar biasa dan memiliki loyalitas yang militan pada bapak Presiden kita), sehingga berhasil meyakinkan sang RI 1 bahwa nama-nama yang dihasilkan ini, merupakan orang-orang dengan kemampuan “di atas rata-rata” (jika tidak bisa dibilang sakti mandraguna itu) dalam memimpin departemen-departemen tertentu. Pada rotasi tampuk menteri kali ini, muncullah sebuah nama yang berhasil menggeser kedigdayaan nama sekelas Anis Baswedan dalam memimpin sebuah departemen yang konon memberikan arah pada kecerdasan kehidupan bangsa : DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL. Nama tersebut adalah Muhadjir Effendi, seorang Mantan Rektor dari Universitas Muhammadiah Malang selama 3 periode.

Dan, penyakit kambuhan pada rotasi menteri, khususnya di bidang pendidikan ini pun muncullah lagi, yaitu melakukan perubahan yang “dirasa” (bukan dikaji secara sains), dapat membawa pendidikan Indonesia lebih baik ketimbang sang pendahulu yang digantikan. Segera setelah diangkat menjadi Menteri Pendidikan Nasional, Muhadjir Effendi, merasa berkewajiban menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang pantas untuk menggantikan Prof. Anies Baswedan. Langkah pertama yang ditempuh adalah mengusulkan perubahan dalam sistem pendidikan dasar di Indonesia. Perubahan yang dimaksud adalah, melakukan penambahan jam kegiatan belajar mengajar pada sekolah sehingga anak-anak akan bersekolah dari pukul 07.00 pagi sampai pukul 17.00. Baginya, ini adalah sebuah rentang waktu yang dinilai “pas” untuk menjejali otak anak-anak dengan ilmu, agar kelak bangsa ini pintar (bukan cerdas?). 

Entah apa yang ada di benak sang menteri ketika menelurkan kebijakan penerapan full day school ini di seluruh SD dan SMP se Indonesia. Namun ide ini, disinyalir menjadi respons cepat dari perintah Presiden Joko Widodo untuk menyiapkan generasi muda Indonesia yang lebih bagus dan punya daya saing tinggi. Menurut penulis, ada indikasi bahwa respon cepat –yang terlampau cepat sehingga berkesan buru-buru ini- terhadap perintah Presiden, dengan gagap ditindak lanjuti sang menteri. Ketika isu terus bergulir dan menuai pro-kontra yang luas di tengah masyarakat, sang menteri berkata bahwa ini baru sebatas ide, namun dengan cara apapun ide ini akan segera diterapkan. Sebagi seorang figur yang mewakili departemen “pencerdas bangsa” semestinya pola lempar wacana untuk menguji reaksi “pasar”, tidak patut dilakukan di departemen yang seharusnya mendahulukan riset, kajian dan pertimbangan yang faktual, ketimbang mendahulukan melempar gosip, rumor dan isu. Jika konteksnya adalah untuk melihat reaksi masyarakat, seharusnya penyampaian yang baik untuk menguji sebuah ide, tidak sampai menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Kelit sang menteri adalah setelah ide ini digulirkan, beliau akan mengundang para pakar untuk membahasnya dan menjadikannya sebagai sebuah ide yang masuk akan dan bisa diterima luas di tengah masyarakat, meski untuk ini pun kita bisa bertanya-tanya, siapakah kira-kira pakar pendidikan Indonesia yang kredibel dan punya reputasi baik yang bisa membawa wajah dunia pendidikan Indonesia menjadi baik dan bisa diajak untuk merasionalisasi ide “gila” sang menteri tadi. Lebih jauh, beberapa kalangan menilai, ide ini hanya usaha dari sang menteri mencari muka di awal kepemimpinannya pada Departemen Pendidikan Nasional.

Ide ini, pada berbagai media online, dipastikan oleh sang menteri sendiri akan segera berjalan atau paling tidak dikaji dan dibahas oleh para pakar, agar bisa segera diterima; sebab belakangan baru diketahui, ide pak menteri ini belum dibarengi dengan kajian tekhnis. Yah ide sekedar ide. Inilah nikmat menjadi penjabat publik, ide sekedar ide pun bisa berbuah proyek besar, meskipun ide itu tidak dilandasi dengan kajian (sains dan tehknik) yang sepadan. Sebagai seorang Guru Besar Sosiologi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, menteri Muhadjir seharusnya mampu mengembangkan kembali konsep-konsep lain mengenai pendidikan luar sekolah yang juga kaya akan nilai edukasi, nilai pembangun karakter dan nilai sosiologis lainnya pada pendidikan anak. Dengan menyandang label Guru Besar Sosiologi Pendidikan Luar Sekolah, kita akan seharusnya akan melihat betapa sang Menteri, akan memiliki beberapa perhatian khusus pada program pendidikan luar sekolah yang memang sudah sejak lama disepakati sebagai satu paket dengan program pendidikan sekolah. Pendidikan luar sekolah yang acapkali menjadi ajang melihat kemampuan konsentrasi bakat anak, dipercaya menjadi bentuk pendidikan informal yang sepenuhnya berintegrasi dan mendukung pendidikan dalam sekolah sebagai pendidikan formal. Dalam ide full day school ini, pak menteri malah mengembalikan peran pendidikan anak hanya semata lewat interaksi dan kegiatan persekolahan sambil mengesampingkan peran-peran lingkungan non-sekolah pada masa pendidikan anak. Sampai disini, kita akan turut menyaksikan betapa negara ini hanya berusaha untuk mengajarkan mata pelajaran kepada anak bangsa, tanpa ada niat sama sekali untuk memberi ruang “mendidik” agar paham ilmu. Dari situ, bisa kita lihat, bahwa bangsa ini telah dengan sangat rakus menciptakan begitu banyak pengajar di sekolah formal, tanpa ada niatan untuk memproduksi juga pengajar yang pendidik, namun itu hal lain yang akan saya bahas pada tulisan lain.

Full day scholl, alias bersekolah seharian penuh, menurut hemat saya lebih banyak kekurangannya ketimbang kelebihannya. Kendala-kendala seperti 2 atau lebih sekolah yang menggunakan satu gedung merupakan persoalan tehnis yang tidak bisa dibilang sepele. Belum lagi, kesiapan fisik dan mental anak yang patut diperhitungkan agar mampu menyerap pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler yang diadakan. Juga, persoalan mengenai pertumbuhan sosiologis anak, yang membutuhkan interaksi sosial luar ruang yang bukan saja dengan anggota sekolahnya saja, namun juga dengan keluarga, lingkungan dan komunitas-komunitas lainnya, merupakan bagian dari pembentukan mental dan karakter anak. Pola-pola patronisasi anak terhadap tokoh di luar sekolah pun harus dicermati, sebab kebijakan full day school sama sekali tidak memberi ruang dan waktu bagi anak-anak untuk hal ini. Mungkin, di satu sisi, niat menteri pendidikan ini baik, yaitu anak tidak menghabiskan waktu seenaknya dengan hal-hal lain yang tidak berguna di luar jam sekolah, namun perlu digaris bawahi juga, bahwa niat yang baik seharusnya diikuti dengan cara yang baik demi tercapainya tujuan yang baik pula. Penerapan full day school di semua SD dan SMP se nusantara, tidak menjadi jalan keluar yang praktis agar anak terhindar dari kegiatan tidak berguna di luar jam persekolahan. Malah yang ada sebaliknya, anak-anak dengan usia daya kreasi tinggi (SD-SMP) dibatasi kreativitasnya dan juga kehidupan sosialnya. Untuk daerah-daerah dengan keadaan tertentu, semisal Papua, anak-anak mencapai sekolah setelah berjalan kaki berkilo-kilo bahkan belasan dan puluhan kilo, masih harus belajar sampai jam 17.00, lantas sampai jam berapa mereka akan sampai ke rumahnya dan beristirahat untuk keesokan harinya. Mungkin Pekerjaan Rumah (PR) pun tidak akan tersentuh usai berjalan kaki sedemikian jauhnya. Lebih konyol lagi, ketika kita harus memikirkan asupan gizi (makan siang) anak, untuk orang tua dengan penghasilan lebih, anak tinggal diberi uang jajan yang lebih, sedangkan untuk anak dengan tingkat penghasilan orang tua yang rendah akan seperti apa? Membawa bekal makan? Berapa jam, makanan tersebut bisa bertahan, jika diolah pagi subuh oleh orangtuanya untuk dimakan disiang menjelang sore hari? Inikah pendidikan itu?      

Ataukah mungkin kebijakan ini ada kaitannya dengan latar belakang sang menteri yang program doktoralnya malah membidangi sosiologi militer? Mungkin maksud pak menteri dengan full day school adalah mempercepat proses kelahiran generasi bangsa yang pintar berkat indoktrinasi a la militer kepada sekolah-sekolah sehingga otak dan mental anak-anak menjadi seperti para calon taruna yang siap dibentuk dengan prinsip kepatuhan dan loyalitas luar biasa pada institusi. Mungkin, akan berhasil demikian, tapi kelak jika memang latar belakangnya seperti ini, anak-anak bangsa akan bertumbuh menjadi generasi yang anti kreativitas tanpa batas. Dan lahirlah generasi “tentara plastik” yang bukan sejatinya prajurit, tetapi mental dan didikannya ditujukan sebagai prajurit; total mengikuti pakem (baca:perintah), tanpa toleran terhadap ide dan kreativitas. Tentara bukan, (mental) plastik iya. Padahal, sudah semestinya, tujuan pendidikan adalah melahirkan generasi yang tidak saja buta aksara tapi paham konteks keilmuan pada pengaplikasian kehidupan sehari-hari untuk memberi manfaat yang luas pada komunitas (masyarakat dan bangsa).
Jauh punguk dari bulan. Jauh harapan dari kenyataan. Masih itu saja wajah pendidikan Indonesia. Bahkan setelah bangsa ini berkali-kali (11 kali) berganti kurikulum dan penjabat Departemen Pendidikan telah banyak berganti wajah, tapi tetap saja, pendidikan kita hanya melahirkan TKI-TKI yang dibayar murah dan diperlakukan tidak adil di negeri seberang. Ketika tahun 1960an, para mahasiswa Malaysia ramai datang belajar ke Indonesia, kini peringkat pendidikan mereka sudah jauh di atas Indonesia yang menempati urutan 60 dari 130 negara. Selamat datang di negara yang masih rajin menjadikan pendidikan hanya sebagai sebuah industri belaka, dan bukan rahim tempat generasi cerdas dilahirkan!

Sudah sepantasnyalah, kisah suram wajah pendidikan Indonesia, tidak diperparah dengan perbagai kebijakan prematur (jika tak dapat dibilang “ngawur”) dari setiap menteri yang naik menduduki jabatan Kementerian Pendidikan Nasional. Sudah saatnya, presiden kita bersikap tentang ini, jika pada saatnya negara ini menginginkan generasi muda yang tidak saja pintar dan cerdas. Agar, kebijakan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tidak pernah tercapai hanya gara-gara, para pembantu presiden menjadikan kebijakan mengenai dunia pendidikan nasional ini hanya sebagai sebuah kontestasi semu dalam berebut acungan jempol sang  Presiden. Sehingga generasi yang dilahirkan dari sistem pendidikan nasional itu, bukan generasi yang girang karena LOLOS dari kurikulum dan tuntutan selama masa pendidikan, namun generasi yang berbangga karena LULUS dari usaha memberi pemahaman yang baik akan keilmuan yang diterimanya.


Jakarta,
Pertengahan Agustus.

Beruang Hitam


Tuesday, May 19, 2015

SEMOGA PARA PEJABAT DI NEGERI KAYA INI, BISA TERBUKA MATA DAN HATINYA SETELAH MELIHAT APA YANG DIPRAKTEKKAN JOSE MUJICA

Kuhidangkan hari buatmu

Mungkin, ini karena kita terbiasa mengulang pagi dgn cara yang monoton..pula dingin..
Mungkin saja karena kita mendulang mimpi yang berbeda..
dan akhirnya terbangun dengan euforia yang tak sama..
Atau boleh jadi, sebab aku salah menerjemahkan arti..
hingga tak pandai aku menangkap pertanda..
Maka..
Maaf, jika pagi yg kuhidangkan masih pagi yang sederhana..yang jauh dari kata mewah..
Maaf, bila hari yang kutanak, tak seenak hari-hari yang dimasak pria sebelumku..
Maaf, seumpama menu hidup kita belum dapat kuganti dgn menu mentereng..
Satu saja yang kupinta..bersoleklah secantik mungkin dan mari gandeng tanganku dengan banggamu itu..
Dan walau kita menyusur teriknya siang,
senyumlah saja, gadisku..
Kujanjikan, terik ini akan kuganti dengan
kerling merona lembayung senja, di ujung jalan, di ujung hari..


("Your last man stand", November 2014)

Bung..apalah kita ini?

Bung, kita ini hanya secarik kertas dalam buku zaman..
Kusam, lusuh saat buku menua..
Berdebu dan kumal di pojok saat usai tugas kita..
Lantas apa yg hendak kita cari pula?
Hikmat manalagi yg hendak kita dustakan?
Jika tugas kita hanya menghantar aksara kepada yg membaca?
Jika misi kita hanya menuang idea ke dalam cawan yg haus ilmu?
Bung, kita ini cuma selembar halaman pada naskah kehidupan..
Jauhkan angkuh dan jadilah rendah hati,
Buang sombongmu, Cuma secarik kertas kita ini,bung..
Agar kelak meski buku itu kusam-lusuh-berdebu, di pojok ruang..
kita masih diingat sbg halaman yg mempesona dlm sederhananya ide..
Dan,dimuliakanlah selalu Sang Penulis Buku itu..


Sepucuk surat dari rakyat buat pelacurnya!

Kalian..hanya sekumpul pelakon yang tak rapih bersandiwara..
Pun ketika pementasan itu berjudul "Mencari Kebenaran"..
Cuma sebaris lirik lagulah kalian itu..
yang mendayu-merayu bernyanyi tentang keadilan..
demi harmoninya kejahatan kalian merampok bangsa..
Tak perlu malu menyandang predikat wakil rakyat..
Saat tahu setiap putus palu di ruang senat adalah untuk rakyat..
Atau saat tahu, bahwa misteri trilyunan anggaran gelap itu bukan datang dari hasil mengangkangi hak rakyat!
Ini saat pembuktian,
bahwa kalian adalah jawara konstituen-mu..
bukan juara partaimu..
Yang akan selalu geram berdiri-berteriak lantang semata karena
mereka yg memikulmu ke singgasana
sedang dicumbui haknya bak lonte..
Kami ini rakyat yg memilih kalian..
Bukan sekumpul pelacur,
yang kalian setubuhi sebentar
pada pesta demokrasi itu,
lantas kalian bodohi dengan onani politik murahanmu itu..
Jika tak sanggup menjadi wakil konstituenmu,
tak usahlah kau bercerita tentang pengorbanan kau dan keluargamu..
Jika sudah berkorban lantas apa?
Apakah itu artinya rakyat harus mengupahi pengorbananmu pula?
Sejenis lontekah juga dirimu?
Jangan..jangan membuat kami yakin..
Bahwa kalian hanya gerombolan pelacur
Yang tak malu melacurkan integritas dan kebaikan
demi membela ego..
Jika kalian benar..
maka tunjukkanlah kebenaran itu..
Bukan menunjukkan pembenaranmu..
Jika kalian salah..akuilah saja,
maka kamipun paham..
bahwa rahmat memimpin itu
masih disimpan DIA di bejana tanah liat yg rapuh..
Dan untuk itupun
kami masih akan tetap mencintai kalian
sebagai wakil kami yg bermartabat..
Jangan pernah menghitung pengorbanan di hadapan rakyat!!!
Sudah sering dan telah lama pula, rakyat berkorban
memenuhi gaji dan kebutuhan mentereng kalian
dengan tiap tetes keringat tulus..
Jika masih goblok pula..
berhentilah curhat air mata buayamu
tentang kelakuan Si Cina dari Belitung itu..
Bolehlah gerombolan preman bengis di belakangmu..
Tapi di belakang si cina itu, barisan rakyat masih bisa lebih cerdas-beringas,bung!!

(Surat buat si bekas kepala preman Tanah Abang, yang kini duduk di ruang senat Ibukota negara ini, kiranya jadilah dirimu segera cerdas!!)

-Jakarta, Maret 2015-

Kita : (masih) Indonesia Raya, Bung!!

Di suatu pagi yang memusingkan, dalam perjalanan menuju kantor, saya berpapasan dengan rombongan anggota ormas agama yang sepanjang jalan memekakkan telinga para pengguna jalan lain dengan kendaraan bak terbuka yang dipenuhi dengan berbagai jenis pengeras suara. Spanduk-spanduk dan aneka tulisan-tulisan protes, mengisyaratkan bahwa mereka sedang berdemo dan ingin ber-unjuk rasa (meskipun sangat tidak kelihatan apa-apa jika mereka memakai perasaan!).
Seruan-seruan yang provokatif dan beberapa diantaranya sangat melecehkan dan menghina pemeluk agama lain, seperti biasa saja buat mereka. Mungkin karena, konon di negeri ini kaum mayoritas sulit dikritik apalagi dituntut secara hukum atas penghinaan pada agama lain.
Syukurnya rombongan itu tak begitu panjang. Dengan sedikit kelihaian berkendara yang tersisa semasa kuliah dulu, saya bisa membebaskan diri dari rombongan yang menambah macetnya Jakarta di pagi hari itu. Sekitar 100 meter saja panjang rombongan tersebut. Mungkin karena belum sampai ke titik konsentrasi untuk berunjuk rasa.
Lambat-laun, suara pengeras suara yang bikin tuli temporal itu, mulai lamat-lamat terdengar di belakang. Anehnya, semakin jauh dari rombongan itu, pikiran saya semakin terganggu. Iya..tepat..TERGANGGU! Dan, jadilah sebaris sastra yang tidak berani saya sebut puisi ini :

"Terlalu jauh kita membatasi Tuhan dlm konsep agama.
lupakah kalau Dia itu Universal dan jauh lbh besar dari otak kecil kita?
Manusia memenjara Tuhan dalam agama
Dan sialnya, mengira bahwa tuhan yg dipenjaranya dalam konsep buatannya itulah yg paling benar..
Itu sebabnya ada kaum radikalis yg tersamar sebagai aktivis
pun kaum ekstremis berkedok cendekiawan berkelakuan cendawan..
Tuhan tidak perlu diterjemahkan pada banyaknya pemahaman ceramahmu (yang kau kira dirimu sudah paham betul itu)..
pun tidak perlu IA kau jabarkan pada tindakan sok heroikmu,

membelaNya dgn membunuh manusia dan kemanusiaan..
Tuhan tidak butuh dibela,kawan.. 

Apalagi dikerangkeng sebagai tawanan konsep beragamamu itu!!!
Luaslah menimbang agar jauhlah bimbang
dan dalamlah membenak..

supaya kelak kamu tak terjebak..
dan idea dlm kepalamu pun tak terserak!!
Terjebak-serak-berak pada konsep dangkalmu sendiri,broh..cuy..bray..om..mas..kang!



SALAM INDONESIA RAYA!


(semoga sorban itu sama kita pahami sebagai keinginan menyucikan kepala; tempat lahir ide-ide tentang kebaikan dan kemanusiaan..dan jangan biarkan sorban hanya berakhir sebagai bungkus kepala.. kalau hanya bungkus kepala, kondom pun bisa, Bung!)

Saturday, January 19, 2013

MENGGALI MALAM MENGGILA


Menggali Malam menggila..
dalam dan tak berujung..
Jari-jari bercakar, menyapu debu malam,
tergores kerikil di pinggir malam..

Lelah bukan rintangannya,
sakit mendalam itu bayarannya..
bahwa menggali malam
bukan kerja orang dengan harapan runtuh...

Makin dalam malam tergali,
makin tergila jiwa sepi
makin terluka tangan terkepal
makin penuh kepala terkulai..
karena menggali malam 
menyisakan onggokan kenangan yang terkuak lagi..
separuh di antaranya busuk dan anyir..
separuh lagi tajam dan keras..

Entah sampai kapan
kita kuat menggali malam...
jika saatnya pagi tiba
malam pun tak habis tergali
mungkin tinggallah kita
para pemimpi yang tersaruk mengejar
mimpi malam yang dibangunkan fajar..

Menggali malam menggila
mungkin bukan pekerjaan
untuk orang dengan harapan kosong
atau untuk orang dengan mimpi tak terbeli..
semoga kau tak lupa, 
bahwa kita juga pernah menggali malam
dan membaringkan mimpi dalam kesia-siaan..
menidurkan cinta dalam kematian tragis..



Jakarta, Awal Januari 2013
-mendung masih rapi berbaris di langit Jakarta-

Wednesday, November 28, 2012

HUJAN!!

Hujan...
Menghapus kepingan
yang terserak di jalan kita...
Mencuci bersih bayang kita waktu itu
saat perjalanan terlampau indah dan naif...

Hujan...
Melempar geledek pertanyaan di benak
"apa pantas perasaan dipersalahkan?"
Menampar diamku yang terlampau bodoh...
Apa lantas aku terbangun dari mimpi
dan menemukanmu tersenyum seperti dulu?

Hujan...
Rinai kecilnya, melunturkan amnesia-ku,
yang lama kujaga...
Sebenarnya aku suka amnesia ini...
Membuat aku nyaman pada lelapnya jiwa tertidur..
cinta sangat aku pada amnesia ini,
dengannya lorong malam tak lagi panjang dan menyedihkan
untuk dilewati...

Hujan...
Jikapun kau pergi,tolong jangan bawa bayang2 dia...
Titipkan saja pada pelangi,yg setia mengikutimu dari belakang..
Atau taruh saja bayangnya pada segar aroma rumput,
usai kau pergi...
Masih mampu kok aku menemukannya...
Asal jangan kau bawa saja...

Hujan...
Jika kau kembali nanti..
Baru kupulangkan bayangnya..
Tunggu sampai kuhirup rindu ini hingga tuntas
Dan kuserahkan dia,bukan dengan kerelaan
tapi dengan ketaatan yang aneh atas cinta...

Hujan...
Jadilah selalu sahabatku,
dan ajarkan aku untuk setia menari dibawahmu...
Tegar didalam dinginmu
Konsisten didalam guyurmu...







Akhir November 2012, mendung di langit Jakarta...

posted from Bloggeroid

Tanya hidup tanya?

Apa itu rasa? Hanya habis untuk diindrai nafsu badaniah? Atau, masih langgengkah kau tersemat di balik dada tulus?

Apa itu sepi? Jika lantas di tengah keramaian pun kau menampakkan wajahmu?

Apa itu puas? Kalau tubuh tak mampu menampung semua jenis turunanmu? Sejak kapan kau hadir di dunia? Kau hadir hanya sebagai kata dan termin..tanpa ada satupun titisan nyatamu...

Apa itu hidup? Jika kadang kematian pun berselimutkanmu? Sering, dalam hidup pun kami mati... Lantas apakah engkau,wahai hidup? Permen dari Sang Pencipta,utk menenangkan anakNya yang bengal?

Apa itu mimpi? Jika kau hanya ingin meninabobokan kami, dan membiarkan kami utk bangun dlm realita pahit bahwa kau tak pernah nyata erat merangkul kami?
Jika kau hadir hanya utk melukai kami dengan jalan memutarmu?

Apa itu anugerah?? Jika lantas untuk memjemputmu bertamu dalam rumah kami pun kau harus mengambil banyak keriangan kami?

Apa itu kutukan? Jika ternyata mengucapkannya pun pada yang lain, berarti membiarkanmu datang lagi pada kami?

Apa itu bencana? Bila dengan datangmu, kami lantas harus berkata Sang Khalik tidak adil? Lantas siapakah DIA, jika kau berkata bahwa kau utusanNya?

Apa itu sedih? Jika akhirnya setiap hujan diberi pelangi, setiap masalah satu paket datangnya dengan solusi, setiap doa seirama dengan berkat? Maka, golongan apakah kamu sebenarnya,wahai sang sedih?

Apa itu harapan? Jika kenyataan selalu jauh dari realitas hidup? Lantas untuk apa kau hadir, harapan? Algojokah kau?

Minggu pertama di 30, November akhir 2012

Tuesday, March 27, 2012

INI KITA !!! (Buat semua kawan yg hari ini turun ke jalan:"Tolak harga BBM!"

INI KITA !!!
(Buat semua kawan yg hari ini turun ke jalan:"Tolak harga BBM!")


Ini kita, masih sekumpulan di seberang jalan..
Bercerita tentang kepalan tangan
Memilih tak mau dibelenggu
Berpekik dengan bara tanpa ragu

Ini kita, bukan sekumpul perdu
hanya sekebun candu
memabukan agar mereka tau malu
bahwa mereka cuma benalu

Ini kita, sekumpul wayang di tengah zaman
bergandeng rapat pada tiap kepalan
"angkat panji tetap berkibar...
menjaganya tanpa gentar !!!"

Ini kita, sekumpul batu bernama gunung
berbaris riang dari Tugu Proklamasi
hingga ke beton-beton Istana Agung
hanya karena tak ingin makan nasi basi

Ini kita, sekumpul air pada samudera
tegar menghajar-mendera

pada kalian yang terbeli mimpi
jika harga akhirnya melambung tinggi

Ini kita, sekumpul angin di perut badai
yang tak terima jika kalian berandai :
"...naikkan BBM tinggi-tinggi..."
kami turun ke jalan mengirim puting beliung
supaya tau rasa kalian kalau kami kebiri dua kali!!!



 --Ryfal--


Senja Maret memerah di langit Bekasi
"barisan panjang di tugu Proklamasi sudah pulang..."

Tuesday, March 20, 2012

Jangan takut, sayang!

Berdua, kita bukan hanya bereksperimen
tentang cinta dan gatranya
Berdua, kita sedang merayakan
penemuan kembali akan rasa, harapan dan mimpi

Dan, karena itu
cacian menjadi menu kita
makian tiba-tiba menjadi barter buat kita
hinaan mereka campur di dalam cawan kita

Mari, jangan gentar sayang
jika mereka menggonggong pun melolong
di rembang fajar nan tenang
dan di gelap hari siang...

Kita bukan sepasang dengan hati kerdil
bukan pula sepasang hati tak berbelas
kita cuma memilih
dan hidup atas pilihan ini...

Mari, jangan surut nyalimu sayang
karena mercu suarlah kita
setia menunggui pantai ganas
tetap diam dalam amuk badai
dan bijaklah di ganas ombak

Mari, jangan takut sayang
kita, para petualang belantara
lelah pada nyamannya hidup
muak pada kehendak yang terbeli
riang kita bercanda di rimba idealisme
gembira kita bertarung pada tantangan

Mari, jangan cemas sayang
sampai waktu membaptis kita
dengan pengalaman dan kebijaksanaannya
takkan terbeli kita oleh kehendak, pandangan,
apalagi harta dan uang...
mungkin, kita takkan berpunya
tapi kita berbahagia
karena tak terbeli dan menjadi merdeka...




Bekasi, Maret 2012
Malam turun membungkus kita, "S"....

KAU

Kau, ingin kureguk tiap tetes sarimu
dan kuhisap tiap bulir bernasmu
Untung saja rumahmu hanya di dada
dan mainmu hanya di idea
Maka, kunikmati saja kau
pada mata yang terpejam
dan hati yang bersyukur
sambi membilang namamu dalam keabadian: CINTA



Bekasi, medio Maret 2012
senja baru lewat, "S"...kau dimana?

RAYAP DALAM KAYU


Dan meski panas berlari di langit garang...
tangan terkepal membungkus pekik lantang:
"KITA SEKUMPULAN ORANG SEBERANG JALAN,
PANTANG MERAYU AGAR DIKANGKANGI KEKUASAAN
ENGGAN KAYA KARENA TAK TERBELI..."

KAMI MEMILIH BERCINTA DENGAN IDEALISME
KARENA JIJIK MELIHAT KALIAN
MENJILATI TUBUH IBU PERTIWI
DENGAN GELOJOH PERUT GENDUT KALIAN
LANTAS MEMPERKOSANYA DI BELUKAR SENAYAN"

dan biar di ujung hari nanti
saat matahari nyaris pergi dari negeri ini
kami berjanji akan kembali
membakar kalian dengan bara kami
meski kami cuma "RAYAP DALAM KAYU"...



Bekasi, Maret 2012
"kita tak terbeli, S-ku!!!"

Saturday, March 17, 2012

PATAH-TUMBUH

Patah...
Membuat sulit mengekstrak rasa
apalagi logika..
Lantas sibuk mencari katarsis
membenam diri pada gilanya hari berlari...
Berharap dengan simpuh lutut
di depan lilin bernyala meminta: "Tuhan, jauhkan cawan ini dari aku..."
Lalu memaksa pena menari
mereduksi gusar
agar tariannya menentramkan guncang gemuruh dada...

Dulu, berharap jadi gunung
Tegak-kokoh menahan bayu menggila
Abadi saat zaman berganti
Setia menunggui bumi
Bertarung dalam diam
Dan menang pun dalam hening
Karena tahu tak akan patah

Pernah, bermimpi jadi karang tepian pantai
Tenang-diam berbaring
Dalam ketenangan aneh
Menunggu hempas ombak, yang lembut pun ganas
Teguh meyakini, tak ada ombak yang akan menggeser
Tak takut, karena tahu tak akan patah

Aneh Buku Hidup ini...
Patah-tumbuh aku diberi
dalam patah aku mengerti tumbuh
dalam tumbuh aku paham tentang patah

Smoga benar...
bahwa jiwa kanak dibentuk saat patah
dan jadi bijak pun dewasa saat tumbuh
bahwa  pucuk teh muda dipatahkan
agar bertumbuh pula pucuk (pemahaman) baru lain...

Jadi, apalah arti patah jika akan tumbuh?
Apalah arti tumbuh jika bakal patah?
Saat patah kubersyukur sedang tumbuh
Saat tumbuh kuberdoa agar tak lupa rasa patah...




Buatmu "S", patah-tumbuhku
Bekasi, Medio Maret 2012