Pun ketika pementasan itu berjudul "Mencari Kebenaran"..
Cuma sebaris lirik lagulah kalian itu..
yang mendayu-merayu bernyanyi tentang keadilan..
demi harmoninya kejahatan kalian merampok bangsa..
Tak perlu malu menyandang predikat wakil rakyat..
Saat tahu setiap putus palu di ruang senat adalah untuk rakyat..
Atau saat tahu, bahwa misteri trilyunan anggaran gelap itu bukan datang dari hasil mengangkangi hak rakyat!
Ini saat pembuktian,
bahwa kalian adalah jawara konstituen-mu..
bukan juara partaimu..
Yang akan selalu geram berdiri-berteriak lantang semata karena
mereka yg memikulmu ke singgasana
sedang dicumbui haknya bak lonte..
Kami ini rakyat yg memilih kalian..
Bukan sekumpul pelacur,
yang kalian setubuhi sebentar
pada pesta demokrasi itu,
lantas kalian bodohi dengan onani politik murahanmu itu..
Jika tak sanggup menjadi wakil konstituenmu,
tak usahlah kau bercerita tentang pengorbanan kau dan keluargamu..
Jika sudah berkorban lantas apa?
Apakah itu artinya rakyat harus mengupahi pengorbananmu pula?
Sejenis lontekah juga dirimu?
Jangan..jangan membuat kami yakin..
Bahwa kalian hanya gerombolan pelacur
Yang tak malu melacurkan integritas dan kebaikan
demi membela ego..
Jika kalian benar..
maka tunjukkanlah kebenaran itu..
Bukan menunjukkan pembenaranmu..
Jika kalian salah..akuilah saja,
maka kamipun paham..
bahwa rahmat memimpin itu
masih disimpan DIA di bejana tanah liat yg rapuh..
Dan untuk itupun
kami masih akan tetap mencintai kalian
sebagai wakil kami yg bermartabat..
Jangan pernah menghitung pengorbanan di hadapan rakyat!!!
Sudah sering dan telah lama pula, rakyat berkorban
memenuhi gaji dan kebutuhan mentereng kalian
dengan tiap tetes keringat tulus..
Jika masih goblok pula..
berhentilah curhat air mata buayamu
tentang kelakuan Si Cina dari Belitung itu..
Bolehlah gerombolan preman bengis di belakangmu..
Tapi di belakang si cina itu, barisan rakyat masih bisa lebih cerdas-beringas,bung!!
(Surat buat si bekas kepala preman Tanah Abang, yang kini duduk di ruang senat Ibukota negara ini, kiranya jadilah dirimu segera cerdas!!)
-Jakarta, Maret 2015-
Saat tahu setiap putus palu di ruang senat adalah untuk rakyat..
Atau saat tahu, bahwa misteri trilyunan anggaran gelap itu bukan datang dari hasil mengangkangi hak rakyat!
Ini saat pembuktian,
bahwa kalian adalah jawara konstituen-mu..
bukan juara partaimu..
Yang akan selalu geram berdiri-berteriak lantang semata karena
mereka yg memikulmu ke singgasana
sedang dicumbui haknya bak lonte..
Kami ini rakyat yg memilih kalian..
Bukan sekumpul pelacur,
yang kalian setubuhi sebentar
pada pesta demokrasi itu,
lantas kalian bodohi dengan onani politik murahanmu itu..
Jika tak sanggup menjadi wakil konstituenmu,
tak usahlah kau bercerita tentang pengorbanan kau dan keluargamu..
Jika sudah berkorban lantas apa?
Apakah itu artinya rakyat harus mengupahi pengorbananmu pula?
Sejenis lontekah juga dirimu?
Jangan..jangan membuat kami yakin..
Bahwa kalian hanya gerombolan pelacur
Yang tak malu melacurkan integritas dan kebaikan
demi membela ego..
Jika kalian benar..
maka tunjukkanlah kebenaran itu..
Bukan menunjukkan pembenaranmu..
Jika kalian salah..akuilah saja,
maka kamipun paham..
bahwa rahmat memimpin itu
masih disimpan DIA di bejana tanah liat yg rapuh..
Dan untuk itupun
kami masih akan tetap mencintai kalian
sebagai wakil kami yg bermartabat..
Jangan pernah menghitung pengorbanan di hadapan rakyat!!!
Sudah sering dan telah lama pula, rakyat berkorban
memenuhi gaji dan kebutuhan mentereng kalian
dengan tiap tetes keringat tulus..
Jika masih goblok pula..
berhentilah curhat air mata buayamu
tentang kelakuan Si Cina dari Belitung itu..
Bolehlah gerombolan preman bengis di belakangmu..
Tapi di belakang si cina itu, barisan rakyat masih bisa lebih cerdas-beringas,bung!!
(Surat buat si bekas kepala preman Tanah Abang, yang kini duduk di ruang senat Ibukota negara ini, kiranya jadilah dirimu segera cerdas!!)
-Jakarta, Maret 2015-
No comments:
Post a Comment